SBY Ajak Masyarakat Dukung Jokowi, Begini Respons Istana
Nasional

Pidato kontemplasi yang ia sampaikan di Puri Cikeas, Bogor, pada Senin (9/9) malam sekaligus menandai kembalinya sang Ketum Partai Demokrat di kancah perpolitikan Tanah Air.

WowKeren - Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akhirnya kembali ke kancah perpolitikan Tanah Air setelah delapan bulan vakum. Kembalinya sang Presiden ke-6 Republik Indonesia (RI) itu ditandai lewat pidato kontemplasi yang ia sampaikan di Puri Ciekas, Bogor, Senin (9/9) malam.

Berbagai hal ia kemukakan dalam pidatonya malam itu, salah satunya soal dukungannya terhadap Presiden Joko Widodo. Diketahui SBY mengajak rakyat untuk mendukung periode kedua pemerintahan Jokowi.


"Pemilihan umum baru selesai kita lakukan," ujarnya, dilansir Detik News. "Rakyat telah memberikan mandatnya kepada kepemimpinan yang baru."

"Dalam kapasitas saya selaku pribadi dan pemimpin Partai Demokrat, saya mengajak saudara-saudara kami rakyat Indonesia untuk memberikan kesempatan dan dukungan kepada pemimpin dan pemerintahan yang baru," imbuhnya. "Agar sukses dalam mengemban amanah rakyat."

Isi pidato SBY ini pun ditanggapi positif oleh pihak istana. Selain memuji, Deputi IV Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Eko Sulistyo, menilai ajakan SBY itu sebagai bentuk kesantunan berpolitik. Ajakan SBY itu juga menegaskan bahwa sang Ketua Umum Partai Demokrat sudah mengakui kemenangan Jokowi dalam Pemilihan Presiden 2019.

"Pernyataan Pak SBY itu mencerminkan dua hal. Pertama, bentuk kesantunan politik dalam kehidupan demokrasi kita yang makin matang," ujar Eko, Selasa (10/9). "Kedua, pernyataan itu menegaskan kembali sikap politik Partai Demokrat yang mengakui kemenangan Pak Jokowi dalam Pilpres lalu sebagai presiden kedua kalinya (untuk periode) 2019-2024."

Selain itu, Eko juga menyoroti isi pidato SBY lainnya, terutama soal tantangan setiap pemimpin untuk menjaga persatuan bangsa. Menurutnya, apa yang disampaikan SBY menunjukkan kayanya pengalaman yang dimiliki sebagai politikus senior.

"Oleh karena itu, menjaga persatuan bangsa selalu menjadi mandat politik sekaligus mandat konstitusi setiap pemimpin negeri ini," kata Eko. "Tak terkecuali Presiden Jokowi."

Demi menjawab tantangan tersebut, Jokowi diketahui perlahan-lahan meninggalkan budaya pembangunan "Jawa Sentris" alias hanya terpusat di Jawa. Sebagai gantinya, Jokowi begitu berhasrat untuk membuat suatu kebijakan pembangunan yang berwawasan "Indonesia Sentris".

"Hal ini dimaksudkan untuk mempercepat pemerataan pembangunan untuk seluruh wilayah Indonesia," pungkasnya. "Serta mengurangi kesenjangan regional yang bisa menjadi sumber ketidakpuasan daerah dan disintegrasi nasional."

You can share this post!

Related Posts
Loading...