Aksi Tolak Pelemahan KPK Berujung Ricuh, 8 Mahasiswa Jadi Korban Kekerasan Aparat
Twitter/blueshoecant
Nasional
Kontroversi Revisi UU KPK

Salah satu mahasiswa, Raksa Nasution, menuturkan bahwa pihak polisi mengatakan akan bertanggung jawab namun pada waktu yang sama di kampus, tidak ada yang datang sama sekali.

WowKeren - Sejumlah mahasiswa Universitas Pakuan, menggelar aksi unjuk rasa di sekitaran Terminal Baranangsiang, Kota Bogor, Jawa Barat. Demo tersebut digelar sebagai bentuk penolakan terhadap pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Aksi tersebut rupanya berujung ricuh. Salah satu mahasiswa, Raksa Nasution, menuturkan bahwa delapan orang temannya harus menjadi korban tindak represif para aparat.


"Zayyanul, Cahyo, Wildan, Taufik, mengalami luka di kepala," terang Raksa di Bogor, Sabtu (21/9). "Kawan kami Adit, kukunya mau putus dan tulang di jarinya tergeser. Hadi lututnya bengkak, Bob Ave tangan kanannya memar, dan Robby pelipisnya berdarah."

Delapan orang tersebut mengalami luka-luka karena dipukul oleh polisi. Tak hanya dipukul, mereka juga ditendang. "Jadi saat terjadi dorong-dorongan antara massa dengan kepolisian, mereka juga menahan sambil menendang-nendang dari bawah," lanjut dia.

Raksa menjelaskan bahwa kejadian berawal ketika ketika massa ingin membubarkan diri pulang setelah selesai berorasi di Tugu Kujang. Mahasiswa yang sudah mendapat izin dari polisi segera melakukan long march ke Universitas Pakuan.

Lalu sesampainya di Terminal Baranangsiang, dorong mendorong pun terjadi sehingga polisi mengarahkan massa berpindah. Namun di sinilah kesalahpahaman terjadi. Ketika massa berpindah, polisi yang melakukan pengamanan dari sisi lainnya, menganggap para mahasiswa ingin memblokade jalan tol.

"Mungkin ya kesalahpahaman karena dari pihak kami juga berhenti sejenak di tempat yang kosong," tutur Raksa. "Saat kami mau mengarah ke jalan pulang, mungkin yang dipikirkan polisi saat itu kita mau blokade tol. Padahal nggak, kita mau lewat untuk pulang."

Alhasil aksi dorong-mendorong pun terjadi. Beberapa rekannya yang terluka segera diarahkan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Pihak kepolisian, dikatakannya, menuturkan akan bertanggung jawab.

"Pihak kepolisian secara lisan sempat bilang bahwa akan bertanggung jawab, pada hari yang sama ya (Jumat)," jelas Raksa. "Namun pada waktu yang sama di kampus, tidak ada yang datang sama sekali."

Di lain sisi, ia mengaku heran dengan apa yang dilakukan polisi. "Yang menjadi pertanyaan kami juga ketika polisi pukulin massa, tiba-tiba mereka ditarik mundur. Itu yang menjadi pertanyaan kita sebenarnya, mereka memang mau mengamankan aksi apa cuma mau memukul kita saja," imbuh Raksa

You can share this post!

Related Posts
Loading...