Gejala penyakit malaria pada anak memang berbeda dengan orang dewasa. Beberapa gejala bahkan tak nampak pada anak dan tahu-tahu sudah semakin parah saja.
- Putri Stevania
- Kamis, 26 September 2019 - 18:48 WIB
WowKeren - Malaria saat ini masih menjadi penyakit yang diresahkan oleh warga. Malaria tidak bisa dianggap remeh karena berkembang dengan sangat cepat saat mulai menginfeksi tubuh manusia, bahkan jika tidak segera ditangani bisa berakibat fatal. Tak tanggung-tanggung, penyakit ini diperkirakan bisa membunuh sekitar 660.000 orang setiap tahunnya.
Malaria adalah penyakit mematikan banyak terjadi di daerah tropis dan subtropis yang memiliki iklim cukup panas untuk memudahkan perkembangan parasit malaria. Penyakit malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium dari gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi. Ketika nyamuk menggigit manusia, maka parasit diitularkan dan masuk ke dalam aliran darah, hingga akhirnya berkembang biak.
Penyakit malaria tidak bisa menular dari orang ke orang, meskipun pada beberapa kasus bisa menyebar tanpa perantara nyamuk. Misalnya virus berpindah dari ibu hamil ke janin, akibat prosedur transfusi darah yang tak sesuai, serta penggunaan jarum suntik yang bergantian.
Siapa saja dapat tertular malaria. Namun mereka yang tinggal atau bepergian ke daerah yang endemis (daerah dengan angka kejadian malaria tinggi) dan kelompok usia tertentu, seperti anak-anak, lebih rentan mengalami penyakit ini. Pada anak, bahkan tak hanya lebih mudah terinfeksi, tapi juga mudah mengalami komplikasi serius dari malaria.
Selain itu, gejala penyakit malaria pada anak juga berbeda dengan orang dewasa. Beberapa gejala bahkan tak nampak pada anak dan tahu-tahu sudah semakin parah saja. Bagaimana cara mendeteksi gejala malaria pada anak? Berikut tim WowKeren rangkum 8 cara mendeteksinya. Yuk disimak!
(wk/putr)1. Anak Akan Demam Tinggi Secara Terus Menerus
Pada orang dewasa, demam yang muncul adalah demam periodik, yaitu naik dan turun dengan pola tertentu, misalnya suhu akan naik setiap 48 jam lalu turun kembali. Namun hal ini berbeda jika terjadi pada anak-anak.
Alih-alih bersifat periodik, anak yang terkena malaria akan mengalami demam hingga 40 derajat Celcius yang terjadi terus-menerus sepanjang hari. Hal ini membuat orang tua lengah karena mengira anak hanya sedang demam biasa dan tak diberi pengobatan.
2. Malaria Pada Anak Memiliki Gejala Mirip Flu
Selain demam, anak juga dapat mengalami berbagai gejala yang menyerupai flu seperti batuk, pilek, dan hidung berair selama satu hingga dua hari. Hal ini lagi-lagi membuat orang tua kerap lengah dan menganggap remeh penyakit sang anak.
Jika sang anak sudah menunjukkan gejala mencurigakan, ada baiknya para orang tua langsung membawa sang buah hati ke dokter untuk diperiksa. Selain itu hal ini juga untuk mencegah kemungkinan komplikasi yang parah pada anak.
3. Warna Kulit Berubah Menjadi Kekungingan
Saat menderita malaria, anak biasanya akan mengalami ikterus. Ikterus adalah kondisi di mana terjadi perubahan warna pada mata dan kulit menjadi kekuningan. Ciri-ciri malaria pada anak yang satu ini dikarenakan telah terjadi kerusakan pada sel hati (liver) akibat infeksi parasit malaria.
Tak hanya itu, akibat kerusakan sel liver tersebut, liver akan mengalami pembengkakan yang dapat dikenali dari kondisi perut penderita yang membesar. Kalau sudah begini jangan tunda lagi membawa buah hati ke rumah sakit.
4. Volume Urine Anak Jadi lebih Sedikit Dari Biasanya
Parasit plasmodium penyebab malaria pada anak juga bisa saja menyerang organ ginjal. Jika sampai ini terjadi, maka gejala malaria pada anak dalam konteks ini yaitu berupa sedikitnya volume urine yang dikeluarkan.
Kalau sudah begini, artinya malaria sudah menyebar dan berdampak komplikasi. Beberapa komplikasi serius yang disebabkan oleh malaria, di antaranya anemia berat, hipoglikemia, kerusakan otak, dan banyak organ gagal berfungsi. Komplikasi tersebut dapat berakibat fatal dan lebih rentan dialami oleh balita serta lansia
5. Muntah Hingga Diare Juga Merupakan Gejala Malaria
Gejala diare adalah kondisi yang juga lazim dialami oleh anak yang terserang penyakit malaria. Pada kasus ini, anak akan mengalami gejala muntah, dan buang air besar (BAB) dengan feses yang disertai lendir dan berwarna hijau gelap.
Jika anak Anda mengalami diare akibat malaria, maka perlu ditangani sesegera mungkin mengingat kondisi ini lama kelamaan akan menyebabkan dehidrasi. Dehidrasi juga akan menyebabkan lemas pada anak sehingga sistem imunnya akan semakin lemah.
6. Waspadai Jika Laju Napas Anak Jadi Cepat
Si kecil juga kemungkinan akan bernapas lebih cepat dari biasanya jika memang ia mengalami penyakit malaria. Kondisi ini juga hendaknya jadi pedoman untuk orang tua agar bisa melakukan penanganan medis secepatnya. Hal ini karena itu merupakan salah satu gejala malaria berat.
7. Kejang Menandakan Infeksi Sudah Menyerang Saraf
Kejang juga sering terjadi pada anak yang menderita malaria. Kejang bisa terjadi, bahkan tanpa didahului demam. Hal tersebut terjadi karena infeksi parasit sudah mencapai sistem saraf. Selain kejang, anak juga dapat mengalami gangguan kesadaran seperti mengigau, bicara melantur, hingga tidak sadarkan diri.
8. Beberapa Kasus, Anak Bahkan Mengalami Hipotermia
Dalam beberapa kasus bahkan anak bisa mengalami hipotermia dan bukan lagi demam. Artinya, anak memiliki suhu tubuh yang jauh lebih rendah dari biasanya. Umumnya, gejala ini muncul pada anak usia dibawah lima tahun yang terjangkit malaria.