Surya Paloh Temui Presiden PKS Sohibul Iman, NasDem Gabung Jadi Oposisi?
Nasional
Wacana NasDem Oposisi

Rombongan Partai NasDem tampak tiba di kantor DPP PKS pada hari ini (30/10) sekitar pukul 16.00 WIB. Usai bertemu selama sekitar 60 menit, NasDem dan PKS lantas membuat kesepahaman.

WowKeren - Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh mendatangi kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera (DPP PKS) di Jalan TB Simatupang, Jakarta, pada hari ini (30/10). Surya tampak ditemani oleh Sekjen NasDem sekaligus Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Jhonny G Plate.

Paloh dan Jhonny tampak tiba di kantor DPP PKS sekitar pukul 16.00 WIB dengan menggunakan bus berlogo NasDem. Selain Jhonny, ada sejumlah elite NasDem lain yang mendampingi Paloh, di antaranya adalah Bendahara Umum DPP Ahmad Ali, Ketua DPP Rachmat Gobel, dan anggota Majelis Tinggi NasDem Lestary M.


Rombongan NasDem tampak mengenakan jas partai mereka yang berwarna biru. Kedatangan rombongan NasDem tersebut lantas disambut langsung oleh Presiden PKS Sohibul Iman, Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Aljufri, Sekjen PKS Mustafa Kamal, serta Ketua DPP PKS Pipin Sopian.

Meski dikenal sebagai salah satu pendukung Joko Widodo-Ma'ruf Amin di Pilpres 2019, NasDem sempat melempar sinyal menjadi oposisi di pemerintahan kali ini. "Kalau tidak ada yang oposisi, NasDem saja yang jadi oposisi," tutur Paloh pada Senin (21/10) pekan lalu.

Sementara PKS diketahui merupakan partai yang bertahan menjadi oposisi pemerintah. Oleh sebab itu, pertemuan ini sempat menimbulkan sejumlah spekulasi.

Namun, pertemuan antara NasDem dan PKS kali ini rupanya menghasilkan sejumlah kesepahaman. Salah satu poin kesepahaman tersebut adalah bersama-sama berjuang dalam memperkuat fungsi pengawasan di DPR.

"Yang pertama, saling menghormati sikap konstitusional dan pilihan politik masing-masing partai. Partai NasDem menghormati sikap dan pilihan politik PKS untuk berjuang membangun bangsa dan negara di luar pemerintahan," tutur Mustafa Kamal. "Di saat yang sama, PKS juga menghormati sikap dan pilihan politik NasDem yang berjuang di dalam pemerintahan."

Mustafa mengakui bahwa sikap politik NasDem dan PKS memang berlawanan. Namun, hal tersebut tak menghalangi kedua partai tersebut untuk berjuang bersama.

"Perbedaan sikap politik kedua partai tersebut tidak menjadi penghalang bagi NasDem dan PKS untuk berjuang bersama menjaga demokrasi agar tetap sehat dengan memperkuat fungsi checks and balances di DPR," jelas Mustafa. "Demokrasi yang sehat itu penting untuk mengatasi tantangan-tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia, baik di bidang politik, ekonomi, keagamaan, pendidikan, kesehatan, budaya dan lainnya."

Kedaulatan NKRI menjadi kesepahaman kedua antara PKS dan NasDem. Sehingga, kedua partai tersebut tidak akan memberi tempat untuk separatisme dan radikalisme.

"Serta tidak memberikan tempat kepada tindakan separatisme, terorisme, radikalisme, intoleransi, dan lainnya," pungkas Mustafa. "Yang bertentangan dengan 4 konsensus dasar kehidupan berbangsa dan bernegara."

You can share this post!

Related Posts