Ramai Telur Berdioxin, Khofifah Sidak Peternakan Ayam
Nasional

Publik baru saja dihebohkan dengan telur ayam yang tercemar dioxin yang merupakan polutan penyebab kanker, dan penyakit berbahaya lainnya. Merespon kabar tersebut, Gubernur Jatim Khofifah pun melakukan inspeksi ke rumah pertenakan ayam di Jatim.

WowKeren - Sebuah hasil riset tentang bahaya sampah plastik dirilis aliansi kelompok lingkungan hidup Indonesia dan asing belum lama ini. Dari hasil tersebut diketahui jika kontaminasi bahaya plastik tersebut berada di dalam telur dari ayam yang mencari makan di sekitar lokasi tumpukan plastik yang dibuat untuk bahan bakar produksi tahu di Desa Tropodo, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo.

Dari hasil riset yang dirilis, telur tersebut mengandung dioxin yang merupakan polutan yang dapat menyebabkan penyakit kanker, parkinson, hingga cacat saat lahir. Kandungan dioxin dalam telur tersebut adalah yang tertinggi nomor dua di Asia setelah telur-telur yang dikumpulkan dekat Bien Hoa, Vietnam.

Merespon hal itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa pun menggelar inspeksi dadakan di peternakan ayam petelur milik Haji Kholik di Desa Kambingan, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu (17/11) siang. Dalam inspeksinya tersebut, Khofifah ditemani oleh sejumlah pakar dari Universitas Brawijaya Malang, Bupati Malang Sanusi, dan pejabat Dinas Peternakan.


Khofifah pun melihat dan memeriksa 300.000 ekor ayam petelur itu diberi makan dan penanganan kandang, hingga pemilihan jenis telur untuk dijual ke pasaran. Hingga di akhir "kunjungan" tersebut dapat dipastikan jika telur ayam asal Jatim tidak mengandung dioxin dan aman untuk dikonsumsi.

"Di peternakan ini quality control terjamin, bahkan sebelum dilempar ke pasaran, telur masih dipilah yang grade A, yang telur grade B dipisahkan," kata Khofifah. Lebih lanjut, ia mengatakan jika ada daerah di Jatim yang menjadi penghasil telur terbesar yaitu, Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, dan Pasuruan.

"Jawa Timur setahun memproduksi 8,2 miliar butir telur per tahun dan menyumbang 29 persen dari kebutuhan telur secara nasional," terang Khofifah. Selanjutnya, Khofifah telah mengirim tim dari Universitas Airlangga Surabaya untuk kembali meneliti telur ayam rumahan di sekitar pusat produksi tahu di Tropodo yang disebut mengandung dioxin.

"Sampel riset di Tropodo adalah telur dari ayam rumahan, bukan telur hasil peternakan ayam profesional," ujarnya. "Untuk memastikan kembali, tim dari Unair sedang meneliti telur ayam rumahan dari Tropodo."

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts