Walau bebas dari penjara, Ahmad Dhani masih dalam masa percobaan selama 6 bulan. Selama waktu tersebut, Dhani akan menyelesaikan sebuah konsep buku sejarah tentang Indonesia.
- Trias Rohmadoni Alandari
- Senin, 30 Desember 2019 - 19:21 WIB
WowKeren - Ahmad Dhani resmi bebas pada hari ini, Senin (30/12) usai mendekam dipenjara selama 11 bulan karena kasus ujaran kebencian. Pasca bebas, Dhani masih akan kembali menjalani masa hukuman keduanya. Kasus kedua Dhani adalah pelanggaran UU ITE yang dilakukannya setelah melontarkan umpatan "idiot" saat berada di Surabaya.
Dhani akan mulai menjalani masa pidana keduanya selama enam bulan terhitung sejak 30 Desember 2019 hingga 29 Juni 2020. Namun, hukuman yang diterima Dhani karena kasus ini bukanlah kurungan penjara melainkan wajib lapor ke Kejari Surabaya. Suami dari Mulan Jameela ini pun mengungkap selama 6 bulan ke depan akan berusaha menjauhi hal-hal yang berpotensi membuatnya kembali berurusan dengan hukum.
"Kan saya tidak diputus bebas, saya di Surabaya itu putusannya percobaan 6 bulan," ungkap Dhani saat menggelar jumpa pers ditemui oleh WowKeren pada Senin (30/12). "Jadi selama 6 bulan ini saya harus mendekam di dalam rumah, hotel atau villa, pokoknya saya menjaga sesuatu dari hal-hal yang beprotensi untuk mengulangi karena saya masih percobaan."
Mengisi waktu 6 bulan tersebut, Dhani berencana menyelesaikan konsep buku sejarah yang ditulisnya sendiri. Pentolan Dewa 19 ini mengambil tema sejarah Indonesia.
"Dalam masa percoban selama 6 bulan rencananya mau menyelesaikankonsep buku yang mau saya buat, 'Sejarah Nasional Indonesia 2012-2019'," sambung Dhani. "Mas Fadli (Fadli Zon) sudah bersedia jadi publisher-nya."
Untuk data dari buku sejarahnya, mantan suami dari Maia Estianty ini mengambil dari data-data online. "Saya banyak mencari data dari online-online terkemuka, saya banyak mengutip dari sana," jelas Dhani.
Pria berusia 47 tahun ini mengatakan kini untuk membuat buku sejarah sangat mudah. Dhani menyebut informasi sejarah yang dimuat dalam bukunya bisa diambil dari internet.
"Kalau zaman dulu kan belum ada online, mau nulis sejarah Diponegoro agak rumit karena harus nyari serat ini, serat ini, yang masih belum tentu kredibel," lanjut Dhani. "Kalau ini data saya lebih mudah membuat buku sejarah karena datanya terekam digital."
Dhani mengungkap alasan yang membuatnya tertarik menulis buku sejarah. Ia menyebut peristiwa politik penting Indonesia terjadi pada 2012-2019.
"Saya rasa karena ada sesuatu yang berubah dari 2012-2019, menurut saya ya," ucap Dhani. "Menurut saya itu peristiwa penting dalam politik yang ada di Indonesia."
(wk/tria)