Raja Keraton Agung Sejagat Ditangkap, Mantan Pengikut: Keplok-Keplok Saya
Nasional
Fenomena Kerajaan Fiktif

'Raja' Keraton Agung Sejagat, Sinuhun Totok Santosa, ternyata pernah beroperasi di Yogyakarta lewat organisasi Jogja Development Committee (DEC) pada tahun 2016.

WowKeren - "Raja" Keraton Agung Sejagat, Sinuhun Totok Santosa (42), diketahui telah ditangkap oleh polisi dan ditetapkan sebagai tersangka dengan pasal penipuan. Totok sendiri sebelumnya pernah beroperasi di Yogyakarta dengan mengaku sebagai Dewan Wali Amanat Panitia Pembangunan Dunia Wilayah Nusantara dalam organisasi Jogja Development Committee (DEC) pada tahun 2016.

Warga Gunungkidul pun pernah menjadi korban janji manis Totok. Salah satunya adalah warga Dusun Tumpak, Desa Ngawu, Kecamatan Playen, Hadi Suroso.


Hadi pernah menjadi koordinator lembaga DEC bentukan Totok tersebut. Ia didapuk menjadi koordinator dan mendapat mandat untuk mencari anggota di Gunungkidul.

Totok menjanjikan Hadi tunjangan sebesar 500 dolar setiap bulannya. Namun, ia tak menjelaskan uang dolar dalam mata uang mana.

Uang tersebut diklaim merupakan dana dari luar negeri untuk kesejahteraan anggota. "Ngoyoworo (hanya obral janji itu mas," ujar Hadi dilansir detikcom pada Rabu (15/1).

Selama menjadi koordinator, Hadi mengaku menanggung biaya operasional dan pengeluaran Gunungkidul DEC. Ia bahkan menjual lahan pertaniannya karena uang yang dijanjikan Totok tak kunjung turun.

"Lha iya ini orangnya, Totok, dia dulu sering ke sini, makan minum di sini, rapat di sini mas," tutur Hadi saat ditunjukkan foto Totok. "Tapi orang itu sekarang hilang, saya kalau lihat dia lagi sudah gimana gitu."

Awalnya, Totok memperkenalkan diri sebagai pendiri DEC dan ingin membentuk lembaga itu di Gunungkidul. Ia pun meminta Hadi mencari anggota Gunungkidul DEC.

"Jadi saya hanya dimintai tolong untuk jadi yang dituakan di Gunungkidul (Gunungkidul DEC) sama bu Retno. Saya tanya untuk apa, dia jawab karena saya salah satu tokoh karena pernah jadi Komandan Koramil Wonosari dan kenal banyak orang," jelas Hadi. "Ikut Pak Totok itu katanya itu ada dana sosial yang dari luar, dari Turki. Katanya dana itu lewat dia (Totok). Terus saja dijanjikan 500 dolar perbulan, itu tunjangan dari pak Toto terkait jabatan (sebagai koordinator Gunungkidul DEC) saya. Kalau sudah keluar (dana dari Turki) nanti dijanjikan sebulan dapat segitu (500 dolar)."

Selama menjadi koordinator selama 2 tahun, Hadi mengaku harus menanggung semua biaya operasional anggota. Hadi pun semakin curiga hingga akhirnya memutuskan keluar pada tahun 2018.

"Lha wong saya bisa dikatakan habis-habisan, karena mobil bawa sendiri, terus anggota ikut saya dan jajan saya yang bayari, bensin juga," kata Hadi. "Akhirnya saya keluar tahun 2018 karena ternyata hanya ngoyoworo itu."

Mendengar kabar penangkapan Totok, Hadi pun mengaku senang. Ia merasa bersyukur sang "Raja" telah tertangkap. "Lha kalau saya seneng mas dia tertangkap, keplok-keplok (tepuk tangan) saya," pungkas Hadi.

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts