Usul Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKS soal tanaman ganja untuk komoditas ekspor sempat menjadi sorotan dan penolakan keras dari berbagai pihak. Namun, siapa yang tahu jika ada negara yang justru melegalkan hal tersebut.
- Nidya Putri
- Senin, 03 Februari 2020 - 10:43 WIB
WowKeren - Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Rafli sempat jadi sorotan beberapa waktu lalu. Pasalnya, ia mengusulkan agar tanaman ganja dijadikan komoditas ekspor kepada Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto.
Rafli menilai bahwa tanaman ganja bisa menjadi komoditas yang menguntungkan, salah satunya bisa digunakan untuk kebutuhan medis. Sayangnya, usul tersebut sulit untuk diterapkan karena tanaman ganja merupakan salah satu jenis narkotika.
Meski begitu, ganja sendiri memiliki potensi pasar besar di dunia. Dilansir africanews, Senin (3/2), berdasarkan data Barclays Bank pasar global untuk ganja medis diperkirakan mencapai US$ 272 miliar pada tahun 2028 atau berkisar sekitar Rp 3.699 triliun (kurs Rp 13.600).
Ketika kegunaan ganja diperdebatkan oleh orang-orang di dunia, di Afrika justru sudah melegalkan ganja bahkan menjadikannya komoditas ekspor. Adalah Lesotho, sebuah negara di Afrika bagian selatan menjadi paling pertama menghalalkan ganja, bahkan ganja sudah jadi sumber pendapatan terbesar ketiga bagi negara di selatan benua Afrika ini.
Bahkan sejak 2017 lalu, Lesotho telah melegalkan ganja untuk tujuan pengobatan. Di negara ini, pemerintah mematok biaya lisensi bagi yang ingin membudidaya ganja sebesar € 30 ribu atau sekitar Rp 450 juta (kurs Rp 15.000) per tahun.
Selain itu, ada Zambia yang pada tahun 2019 telah melegalkan ekspor ganja dengan alasan bisa mengurangi utang negara. Pertumbuhan utang luar negeri yang mencapai USD 10,5 miliar pada akhir tahun 2018 telah membuat kekhawatiran bahwa negara ini menuju utang.
Menurut Presiden Partai Hijau Zambia Peter Sinkamba, langkah ini bisa menghasilkan uang bagi Zambia hingga USD 36 miliar per tahun. "Bergantung pada seberapa baik hal ini dilakukan, ini hanya dapat mengubah wajah ekonomi Zambia," ujarnya. "Ini bisa menjadi berkah atau kutukan, seperti berlian dan emas, tergantung pada arah kebijakan."
(wk/nidy)