Bikin Nyesek, Paramedis Corona AS: Mungkin Saya Orang Terakhir Yang Dilihat Pasien
AP Photo
Dunia
Pandemi Virus Corona

Paramedis AS membagikan sejumlah kisah menyesakkan kala mereka bertugas. Salah satunya terkait kondisi psikologis pasien yang tak bisa didampingi keluarganya, bahkan di masa-masa terakhirnya.

WowKeren - Kalau ditanya siapa yang paling dibuat pusing oleh wabah virus Corona, tentu saja tenaga kesehatan jawabannya. Bahkan kadang mengesampingkan keselamatan pribadi, para petugas kesehatan ini harus berhadapan dengan pasien positif COVID-19 untuk memberikan mereka perawatan terbaik sampai sembuh.

Di tengah misi kemanusiaan yang mereka emban, berbagai kisah sedih pun terjadi. Bagaimana tidak? Laju penularan yang tinggi tentu diimbangi dengan makin banyaknya pasien positif yang dilarikan ke rumah sakit.

Mirisnya, tanpa penanganan yang cepat, para pasien itu juga kondisinya bisa memburuk dengan cepat. Hal inilah yang menjadi kekhawatiran seorang perawat ICU di Rumah Sakit Universitas Chicago.

"Jumlah pasien COVID-19 terus meningkat tajam setiap hari," ujar perawat yang enggan disebutkan namanya itu. "Dan kami semua khawatir keadaan akan semakin buruk."

Bahkan para perawat pun sampai tak berani menjeda jam kerjanya agar tak perlu mencopot-pasang alat pelindung diri (APD) yang digunakan. Namun yang lebih menyakitkan hati dan perasaannya adalah kala melihat keluarga para pasien yang tak bisa berkunjung ke rumah sakit.


"Sangat meremukkan hati melihat keluarga para pasien hanya bisa diam di rumah sedangkan orang terkasih mereka berjuang antara hidup dan mati," terangnya, dilansir CNN. "Itu membuatku menangis setiap kali memberitahukan perkembangan pasien kepada keluarganya dan mendengarkan rasa frustrasi mereka atas kondisi yang ada."

"Oleh karena itu, tolong diamlah di rumah," imbuhnya memohon. "Tolong. Aku tak bisa berdiam di rumah, tapi kalian bisa. Kalau kalian tidak mematuhinya, semua tidak akan berakhir. Ini memang seperti di film, tetapi ini kehidupan nyata dan aku sendiri bahkan masih tidak percaya."

Dr. Colleen Smith dari UGD Elmhurst menyebut upaya pemerintah untuk menenangkan publik tak lagi bisa ia percayai. Sebab dengan mata-kepalanya sendiri ia melihat situasi yang ada semakin buruk, apalagi kondisi pasien yang dirawat juga dengan cepat menurun.

"Menakutkannya, selama masa perawatan mereka sakit namun terlihat sehat," terangnya. "Namun perlahan-lahan cahaya di mata mereka meredup dan Anda tahu beberapa saat kemudian ia sudah pergi."

Ahli anestesi dari Universitas Illnois, Chicago, Dr. Cory Deburghgraeve, justru lebih frustrasi karena ia tahu dirinya barangkali menjadi orang terakhir yang dilihat pasien. Perasaan itu bahkan lebih menakutkan ketimbang ia yang harus bekerja begitu dekat dengan pasien positif COVID-19.

"Yang membuatku putus asa, kami tahu beberapa pasien itu tak dapat selamat," jelasnya. "Dan karena mereka tak boleh didampingi keluarga atau kerabat, akulah orang terakhir yang mereka lihat, suarakulah yang terakhir mereka dengar sebelum aku membuat mereka 'tertidur' karena akan diberi ventilator."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts