Virus Corona Disebut Tak Tahan Panas, Mitos Atau Fakta?
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Dalam situs resminya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan jika penularan virus corona bisa terjadi di semua area, terlepas apakah iklim di area tersebut panas maupun lembap.

WowKeren - Virus corona disebut-sebut tidak bisa bertahan lama di dalam kondisi suhu udara yang panas. Semakin panas suatu suhu maka semakin lemah daya tahan virus. Hal itu sebagaimana dikemukakan oleh ahli virologi Indonesia drh Indro Cahyono.

"Jadi kalau misalnya dia (virus) di suhu 10-15 (derajat) mungkin dia bisa bertahan di lingkungan sampai 3 jam," kata Indro dilansir Suara, Selasa (31.3). "Di suhu 20-25, dia hanya bertahan selama 3 menit. Sekarang suhu di Indonesia 26-30 derajat, gak sampai 1 menit itu virusnya sudah hilang."


Dengan kata lain, untuk kondisi suhu di Indonesia yang seperti itu, virus tidak akan bisa bertahan lama di udara. Meski demikian, tetap saja jika dilihat dengan banyaknya kasus positif hingga saat ini, penyebaran corona di Indonesia tetap tinggi. Hingga kini di Indonesia, terkonfirmasi sebanyak 1.528 kasus corona per Selasa (31/3).

Dalam situs resminya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan jika penularan virus corona bisa terjadi di semua area, terlepas apakah iklim di area tersebut panas maupun lembap.

"Dari bukti di lapangan sejauh ini, virus COVID-19 dapat menular di semau area," jelas WHO. "Termasuk daerah dengan cuaca panas maupun lembap. Terlepas dari iklim, lakukan tindakan perlindungan jika Anda tinggal atau bepergian ke area yang terindikasi COVID-19."

Dalam situsnya, WHO juga menegaskan jika mandi dengan air hangat tak serta merta bisa mencegah virus corona. Sebaliknya, mandi dengan air yang terlalu panas justru bisa membahayakan diri sendiri.

"Cara terbaik untuk melindungi diri Anda dari COVID-19 adalah dengan sering membersihkan tangan," lanjut WHO. "Cara ini dapat menghilangkan virus yang mungkin menempel di tangan dan menghindari infeksi yang mungkin terjadi dari menyentuh mata, mulut, dan hidung."

Sementara itu, seorang internis Dr Robert Olivero menyebut jika pada beberapa virus, suhu lembap dan panas bisa menurunkan virulensi dan infektivitas suatu virus. Namun untuk virus corona ini, masih belum bisa dipastikan mengingat virus masih terbilang baru.

"Itu terjadi dengan virus tertentu," kata dia. "Kami tahu lebih banyak tentang virus lain. Kami tidak tahu banyak tentang virus corona ini."

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts