Presiden Filipina Rodrigo Duterte Ancam Bakal Tembak Mati Pengacau   di Tengah Lockdown
Dunia
Pandemi Virus Corona

Peringatan dari Presiden Filipina Rodrigo Duterte ini datang setelah adanya sekelompok warga dari daerah kumuh di Kota Quezon, Manila, yang melakukan protes di sepanjang jalan raya dekat rumah-rumah mereka.

WowKeren - Presiden Filipina Rodrigo Duterte diketahui telah menerapkan lockdown di Pulau Luzon selama 1 bulan terkait pandemi virus corona (Covid-19). Kebijakan yang diberi nama enhanced community quarantine atau CQ tersebut diumumkan pada 17 Maret lalu dan akan berlangsung hingga 12 April 2020 mendatang.

Luzon yang merupakan wilayah utama Filipina Utara dihuni oleh lebih dari 57 juta jiwa. Pimpinan Provinsi dan Kota lain di Filipina juga telah melakukan langkah-langkah serupa di komunitas mereka, dan menempatkan hampir lebih dari 100 juta orang di bawah karantina.

Kini, Presiden Duterte mengancam akan memerintahkan aparat penegak hukum untuk menembak mati orang-orang yang melanggar aturan lockdown. Selain itu, Presiden Duterte juga mengancam akan menghentikan bantuan pangan dan uang tunai apabila ada warga yang berbuat rusuh kala lockdown.

"Ini menjadi peringatan untuk semuanya. Ikuti pemerintah saat ini karena kini adanya peraturan sangat penting bagi kita saat ini," tutur Presiden Duterte dalam pidato nasional yang disiarkan di televisi pada Rabu (1/4) malam waktu setempat, dilansir AlJazeera. "Lalu jangan sampai ada yang membahayakan petugas kesehatan dan para dokter, karena itu adalah kejahatan serius. Perintah saya kepada polisi dan militer, jika ada yang membuat masalah, dan hidup mereka dalam bahaya: tembak mati mereka."


Presiden Duterte juga mengingatkan supaya tak ada yang melawan pemerintahannya saat ini. "Jangan mengintimidasi pemerintah. Jangan menantang pemerintah. Anda akan kalah," tegas Presiden Duterte.

Peringatan dari Presiden Duterte ini datang setelah adanya warga daerah kumuh di Kota Quezon Manila yang melakukan protes di sepanjang jalan raya dekat rumah-rumah mereka. Warga-warga tersebut mengklaim bahwa mereka belum menerima paket makanan dan pasokan bantuan lainnya sejak lockdown dimulai lebih dari dua minggu lalu.

Petugas keamanan desa dan juga polisi mendesak agar warga kembali ke rumah mereka masing-masing tapi mereka menolak. Polisi juga dilaporkan membubarkan dan menangkap sekitar 20 orang dalam protes tersebut.

Menurut pemimpin grup protes tersebut, Jocy Lopez, mereka terpaksa turun ke jalanan sebab mereka sama sekali tidak memiliki makanan karena lockdown. "Kami di sini untuk meminta bantuan karena kami kelaparan. Kami belum diberi makanan, beras, bahan makanan atau uang tunai. Kami tidak punya pekerjaan. Kepada siapa kami harus berpaling?" ujar Lopez sebelum ditangkap.

Sementara itu, otoritas kesehatan Filipina telah mencatat 2.311 kasus Covid-19 per Rabu (1/4) kemarin. Pandemi tersebut juga telah menewaskan setidaknya 96 orang di Filipina.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts