Virus Corona Diteliti Punya Efek Jangka Panjang Ancam Kesehatan Penyintas, Apa Saja?
Dunia
Pandemi Virus Corona

Sebuah penelitian baru-baru ini mengungkapkan jika virus corona (COVID-19) kemungkinan memiliki efek jangka panjang yang mengancam kesehatan penyintas. Apa saja?

WowKeren - Pandemi virus corona (COVID-19) telah menjadi mengancam kehidupan manusia setelah tercatat ada lebih dari 1,5 juta kasus di seluruh dunia. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hingga Jumat (10/4) mencatat lebih dari 92 ribu orang dinyatakan meninggal dunia.

Meski demikian, pasien yang dinyatakan sembuh dari COVID-19 sangat tinggi, yakni lebih dari 370 ribu orang. Baru-baru ini, sebuah penelitian mengungkapkan bagaimana kasus virus corona memiliki efek jangka panjang yang mengancam kesehatan para penyintas.

COVID-19 sendiri dikategorikan sebagai virus baru sehingga banyak penelitian memang masih belum bisa kebenarannya 100 persen. Namun, tetap ada banyak informasi yang bisa didapatkan sejumlah penelitian, seperti dari data awal tentang pasien virus corona di Amerika Serikat yang dirilis oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC).

CDC melaporkan sekitar 80 persen kasus COVID-19 yang dilaporkan di Tiongkok dianggap ringan. Shu-Yuan Xiao, seorang profesor patologi di Fakultas Kedokteran Universitas Chicago menekankan bahwa sebagian besar pasien yang memiliki penyakit ringan dapat pulih tanpa efek yang bertahan lama.

Tetapi, pasien yang memiliki gejala COVID-19 lebih parah dan harus memakai ventilator terancam memiliki efek samping jangka panjang. “Untuk 16-20% pasien bergejala yang akhirnya membutuhkan perawatan ICU, sulit untuk diprediksi," kata Xiao seperti dilansir dari YahooNews, Sabtu (11/4).

Walaupun penelitian ini belum dipastikan, namun pasien yang masuk ke unit perawatan intensif (ICU) dan membutuhkan ventilator lebih cenderung mengalami kerusakan paru-paru. Selain itu, pasien itu juga berpotensi mengembangkan sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS).

ARDS sendiri merupakan kondisi paru-paru yang parah di mana cairan terkumpul di kantung udara paru-paru. Penelitian ini juga berkaca pada situasi wabah SARS dan MERS yang dialami banyak penyintas. Sebagian penyintas harus bertahan menggunakan mesin pendukung kehidupan ECMO yang merupakan pengganti fungsi jantung dan paru-paru.


"Berdasarkan pengalaman dari SARS dan MERS, beberapa pasien mungkin mengembangkan fibrosis paru-paru," jelas Xiao. "Di Tiongkok, beberapa pasien akhirnya harus menggunakan(ECMO untuk mendukung pasien sementara mereka mendapatkan kembali fungsi paru-paru. Bahkan, beberapa dari mereka mungkin tidak pernah mendapatkan kembali fungsi paru-paru."

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American Medical Association pada Februari, dari 138 pasien di Wuhan, sebanyak 10 persen dari mereka yang dirawat di ICU akhirnya beralih ke mesin ECMO. Mereka menggunakan mesin tersebut untuk mengeluarkan darah dari tubuh, mengoksidasi dan lalu mengembalikan lagi ke tubuh.

"Ini adalah fenomena umum yang biasa terjadi jika kondisi kesehatan pasien begitu parah sehingga harus dirawat di ICU,” terang Dr. Amesh Adalja, seorang pakar penyakit menular dan perawatan kritis di Sekolah Kesehatan Masyarakat Johns Hopkins Bloomberg. "Ada banyak kesamaan penelitian yang kami lakukan antara kegalalan pernapasan pasien non-COVID-19 dan yang bukan.”

Baik Xiao dan Adalja menekankan bahwa diperlukan lebih banyak penelitian terhadap pasien COVID-19. Hal ini untuk memastikan bagaimana kemungkinan para pasien virus corona mengalami efek jangka panjang dalam masalah pernapasan mereka.

"Saya berharap akan ada lebih banyak otopsi dilakukan pada pasien yang meninggal karena penyakit, untuk memberikan pengetahuan yang lebih baik," ujar Xiao. "Saat ini, kita hanya tahu sedikit tentang spektrum patologi COVID-19."

Selain potensi kerusakan paru-paru, data awal dari Tiongkok menunjukkan bahwa pasien yang tertular virus corona juga berisiko tinggi memiliki masalah jantung. Sebuah studi yang dilakukan di Wuhan, menemukan bahwa 20% pasien yang dirawat di rumah sakit dengan COVID-19 mengalami kerusakan jantung.

Kerusakan jantung tersebut lantas dikaitkan dengan risiko kematian di rumah sakit yang sangat tinggi. Tidak jelas apakah masalah-masalah jantung itu disebabkan oleh virus itu sendiri, karena berbagai jenis penyakit parah juga dapat memicu masalah jantung.

"Seseorang yang sekarat karena pneumonia parah pada akhirnya akan mati karena jantungnya berhenti," kata Dr Robert Bonow, profesor kardiologi Fakultas Kedokteran Universitas Northwestern dan editor JAMA Cardiology, kepada Kaiser Health News, "Anda tidak bisa mendapatkan cukup oksigen ke dalam sistem dan kondisi tubuh menjadi semakin parah.”

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts