Cuaca Musim Panas Berpotensi Perburuk Efek Corona di Eropa
Dunia

Keadaan geografis Eropa yang berupa daerah bergunung-gunung maupun lautan menyebabkan semakin sulitnya melakukan prediksi cuaca dibanding tempat lain seperti Benua Australia.

WowKeren - Saat ini, negara-negara di dunia tengah berfokus untuk memerangi pandemi virus corona. Virus ini menyebar hampir di semua negara di dunia. Namun, bukan hanya corona satu-satunya masalah yang mendesak untuk ditangani.

Pemanasan global yang telah menjadi isu dunia masih berlangsung bahkan di tengah merebaknya pandemi itu. Andreas Becker dari German Weather Service, DWD, di Frankfurt am Main menyebut jika cuaca pada Januari dan Maret terlalu kering. "Januari terlalu hangat. Tidak ada bukti bahwa pemanasan global telah berhenti atau melambat," kata dia dilansir dari Deutsche Welle, Selasa (14/4).

Sementara itu, Andreas Marx dari Pusat Penelitian Lingkungan Helmholtz di Leipzig mengatakan jika selama tiga tahun belakangan curah hujan di sejumlah negara Eropa sangat rendah. Bukan hanya di Jerman namun juga Polandia, Ukraina, Belarusia, hingga Rusia.

Selain itu, keadaan geografis Eropa yang berupa daerah bergunung maupun lautan menyebabkan semakin sulitnya prediksi cuaca untuk dilakukan dibanding tempat lain seperti Benua Australia. Baik Becker maupun Andreas melihat jika musim panas tahun ini akan lebih hangat dari biasanya.


"Kita mengalami suhu 36 derajat di antaranya pada tahun 2018, dan 29 derajat di 2019," ujar Andreas. "Itu berarti gelombang panas dapat berlangsung tiga hingga empat kali lebih lama daripada rata-rata."

Jika kondisi cuaca terus berjalan sesuai yang diprediksi oleh para ahli maka ke depannya Eropa tak hanya akan "menderita" karena ancaman COVID-19 namun juga efek cuaca. Masih dilansir Deutsche Welle, orang yang lanjut usia akan lebih rentan dengan kondisi cuaca ini.

Selain itu, pemakaian masker juga akan cukup menyiksa di tengah cuaca yang panas. Ditambah lagi, masalah yang umum terjadi ketika suhu panas adalah ancaman kebakaran hutan.

Ketika kebakaran hutan terjadi akan menimbulkan polusi udara. Yang mana pada akhirnya hal ini akan bisa mengganggu pernapasan manusia. Hal ini akan menjadi beban lain terhadap paru-paru manusia, terutama bagi mereka yang telah terinfeksi virus corona.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait