Riset penggunaan klorokuin ini dilakukan terhadap 81 pasien positif corona di rumah sakit di Kota Manaus, Amazonas, Brasil. Hasil riset ini juga telah diterbitkan oleh jurnal medis medRxiv.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 14 April 2020 - 14:16 WIB
WowKeren - Para peneliti di Brasil menghentikan uji coba penggunaan klorokuin sebagai obat untuk pasien virus corona (Covid-19). Pasalnya, sejumlah pasien yang dijadikan objek uji klinis tersebut mengalami komplikasi jantung yang fatal usai diberi klorokuin dalam dosis tinggi.
Sebagai informasi, klorokuin yang selama ini digunakan untuk mengobati penyakit Malaria kini kerap digunakan dalam perawatan pasien virus corona. Hasil riset yang dilakukan terhadap 81 pasien positif corona di rumah sakit di Kota Manaus, Amazonas, Brasil ini telah diterbitkan oleh jurnal medis medRxiv pada Sabtu (11/4) pekan lalu. Namun, masih belum menjalani tahap peer-preview dari peneliti lain.
Dalam uji coba tersebut, setengah dari jumlah pasien yang menjadi peserta diberi dosis klorokuin rendah sebanyak 450 mg selama 5 hari. Sedangkan separuh pasien sisanya diberikan klorokuin dalam dosis tinggi sebanyak 600 mg selama 10 hari.
Para peneliti langsung memperhatikan aritmia jantung pada pasien yang diberi klorokuin dosis tinggi setelah 3 hari. Pada hari keenam, 11 pasien pun meninggal dunia.
Meski demikian, penyebab kematian belasan pasien tersebut masih belum dipastikan, apakah karena Covid-19 atau klorokuin. Namun, uji coba tersebut ditangguhkan dan seluruh pasien yang tersisa diberi klorokuin dosis rendah.
"Temuan awal menunjukkan bahwa dosis klorokuin yang lebih tinggi (selama 10 hari) tidak dianjurkan untuk pengobatan Covid-19 karena potensi bahaya keamanannya," tutur tim peneliti dilansir Independent pada Selasa (14/4) hari ini. "Hasil tersebut memaksa kami untuk menghentikan rekrutmen pasien uji coba ini sebelum waktunya. Mengingat dorongan global yang sangat besar untuk penggunaan klorokuin untuk Covid-19, hasil seperti yang ditemukan dalam percobaan ini dapat memberikan bukti kuat untuk rekomendasi manajemen pasien Covid-19 yang diperbarui."
Lebih lanjut, para peneliti menjelaskan bahwa tidak ada cukup banyak pasien dalam uji coba ini untuk mengambil kesimpulan apakah emberian klorokuin dalam dosis rendah efektif menyembuhkan pasien Covid-19 dengan gejala penyakit parah atau tidak. Mereka mengaku perlu lebih banyak riset lanjutan untuk mengetahui dampak klorokuin bagi pasien Covid-19.
Sebelumnya, sebuah laporan ilmiah dari Tiongkok merekomendasikan pemberian 500 mg klorokuin dalam waktu 10 hari kepada pasien corona. Hasil riset dari Brasil ini pun dapat menjadi bukti tandingan laporan ilmiah tersebut soal dosis klorokuin yang dianjurkan untuk pasien corona. "Penelitian kami memberi peringatan yang cukup untuk menghentikan penggunaan dosis tersebut di seluruh dunia demi menghindari kematian yang tidak perlu," pungkas penelitian tersebut.
(wk/Bert)