Pandemi COVID-19 Bikin Peringatan Hari Bumi ke-50 Terasa Beda
Dunia

Menyebarnya pandemi COVID-19 secara global turut mengubah aktivitas manusia. Akibat menurunnya aktivitas manusia berimbas pada menurunnya tingkat polusi udara.

WowKeren - Pandemi global yang masih menginfeksi seluruh dunia, COVID-19 rupanya turut memberikan dampak positif bagi alam. Pandemi ini memberikan kesan yang berbeda pada peringatan Hari Bumi atau Earth Daya ke-50 yang jatuh pada Rabu (22/4).

Hari Bumi sendiri sempat menjadi fenomena global pada tahun 1990 silam, ketika sekelompok pemimpin lingkungan meminta salah satu penggagas Hari Bumi, Denis Hayes, untuk memperluas gerakan menyelamatkan alam. Kala itu, ada sekitar 141 negara yang telah melakukan sederet upaya untuk memperbaiki kondisi bumi.

Salah satunya dengan proyek daur ulang. Lalu satu dekade setelahnya, yakni tahun 2000, pembicaraan mengenai upaya memerangi pemanasan global untuk menciptakan energi bersih dimulai.

Hingga kini, persoalan terkait energi bersih dan pemanasan masih menjadi masalah global. Namun, siapa sangka jika pandemi justru mendatangkan "benefit" untuk masalah ini.


Pandemi corona yang menginfeksi lebih dari 2 juta penduduk bumi, membuat sejumlah negara memberlakukan lockdown. Gerakan social distancing juga digencarkan dimana-mana. Hal ini pun turut merubah secara signifikan aktivitas manusia sehari-harinya, dibandingkan sebelum pandemi ini menyerang.

Akibat menurunnya aktivitas manusia turut berimbas pada menurunnya tingkat polusi udara. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), memperkirakan jika tingkat emisi karbon secara global telah mengalami penurunan tahun ini. Tak lain tak bukan, hal itu "berkat" pandemi corona.

Namun, Jenderal WMO Petteri Taalas menyebut jika hal itu merupakan kabar baik untuk jangka pendek. "Krisis ini berdampak pada emisi gas rumah kaca," katanya saat konferensi pers virtual.

Penurunan gas emisi tersebut, tak lepas dari berkurangnya aktivitas industri. Begitu juga gas buang dari alat transportasi. Ia pun tidak menampik jika pandemi virus telah menjadi mimpi buruk bagi kesehatan global dan juga sektor perekonomian.

"Namun, COVID-19 telah menyebabkan krisis kesehatan dan ekonomi internasional yang parah," lanjut Taalas. "Kegagalan untuk mengatasi perubahan iklim dapat mengancam kesejahteraan manusia, ekosistem dan ekonomi selama berabad-abad."

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait