Tolak Penggunaan Klorokuin Jadi Obat COVID-19, Pakar Vaksin AS Dipecat
Dunia

Sebelumnya, penggunaan klorokuin sebagai obat COVID-19 sendiri sangat disarankan oleh Presiden AS Donald Trump. Bahkan, Trump mengklaim bahwa obat malaria tersebut adalah obat mujarab untuk pasien COVID-19.

WowKeren - Seorang pakar vaksin Amerika Serikat (AS), Dr. Rick Bright, mengaku bahwa ia dikeluarkan dari pekerjaannya karena menentang penggunaan klorokuin sebagai obat virus corona (COVID-19) seperti yang disarankan oleh Presiden Donald Trump. Dr. Rick Bright yang bertanggung jawab mengepalai pengembangkan vaksin corona dilepas dari jabatannya, sebagai direktur Badan Penelitian dan Pengembangan Biomedis Lanjutan (BARDA).

Dilansir The Guardian pada Jumat (24/4), Bright dilaporkan telah dipindahkan ke posisi yang lebih rendah di National Institutes of Health. "Saya percaya pemindahan ini sebagai tanggapan atas desakan saya bahwa pemerintah menginvestasikan miliaran dolar yang dialokasikan oleh Kongres untuk mengatasi pandemi COVID-19 ke dalam solusi yang aman dan diselidiki secara ilmiah, dan bukan dalam obat-obatan, vaksin, dan teknologi lain yang tidak memiliki keunggulan ilmiah," katanya dalam sebuah pernyataan kepada media AS.

Lebih lanjut, DR. Bright mengatakan, langkah ini adalah tanggapan langsung terhadap penolakannya pada "arahan keliru" dari Trump untuk mendukung penggunaan obat malaria klorokuin dan hidroksiklorokuin untuk mengobati COVID-19. Menurutnya, obat malaria itu dianjurkan oleh pemerintah sebagai obat mujarab, namun jelas tidak memiliki manfaat ilmiah sebagai obat untuk COVID-19.

"Sementara saya bersiap melihat semua pilihan dan berpikir di luar cara biasa untuk perawatan yang efektif, saya benar-benar menolak upaya untuk memberikan obat yang tidak terbukti atas permintaan kepada masyarakat Amerika," tegasnya.


Diketahui, sejak pertengahan Maret lalu Trump memang menyerukan pemakaian klorokuin sebagai obat COVID-19, dengan sedikit bukti dari penelitian tentang keamanan dan efektivitasnya. Meski penasihat sainsnya sendiri menyarankan penelitian lebih lanjut diperlukan, Trump berulang kali mendorong penggunaan obat itu, mengklaim bahwa itu bisa menjadi obat mujarab untuk melawan pandemi virus corona.

Terlepas dari laporan ini, uji coba klinis pertama untuk obat corona lainnya, Remdesivir, juga dilaporkan mengalami kegagalan. Uji coba yang dilakukan oleh Tiongkok menunjukkan bahwa obat itu tidak berhasil menyembuhkan pasien COVID-19. Hal ini juga dilaporkan dalam dokumen yang sempat dirilis oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dikatakan bahwa Remdesivir tidak memperbaiki kondisi pasien COVID-19. Bahkan obat ini dalam uji coba pertamanya tidak mampu mengurangi patogen virus dalam aliran darah.

Sementara itu, WHO mengimbau pada seluruh masyarakat dunia untuk tetap berhati-hati terhadap virus ini hingga vaksinnya ditemukan. Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, bahkan mengklaim bahwa virus ini masih akan bertahan lama dan tak bisa berakhir dalam waktu dekat. "Jangan salah. Kita masih harus menempuh jalan panjang. Virus ini akan bersama kita untuk waktu yang lama," ujarnya.

Hal tersebut lantaran sebagian besar negara di dunia masih berada dalam tahap awal pandemi, sementara beberapa negara lainnya mulai bangkit dari wabah ini. "Sebagian besar negara masih dalam tahap awal dan beberapa yang terdampak awal pandemi mulai melihat kebangkitan dalam kasus-kasus," tuturnya, dalam pernyataan resminya pada Rabu (22/4) waktu setempat.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait