Dikepung Corona, Afrika Justru Khawatir Bakal Tumbang Akibat Lonjakan Kasus Malaria
Dunia

Afrika selama ini sudah 'dihantui' berbagai jenis wabah penyakit sebelum COVID-19 ikut menginvasi. Namun WHO mengkhawatirkan peluang Afrika justru tumbang akibat malaria.

WowKeren - Bukan lagi Eropa maupun Amerika, akhir-akhir ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memfokuskan diri terhadap wabah COVID-19 di negara-negara Afrika. Pasalnya terjadi lonjakan kasus positif COVID-19 di benua tersebut, bahkan mencapai 40 persen.

Dilansir dari Washington Post, setidaknya ada 25 ribu kasus positif diantara 1,3 miliar penghuni Afrika, dengan jumlah kematian mencapai 1.200 pasien. Angka ini membuat WHO khawatir Afrika bakal menjadi episentrum atau pusat baru wabah.

Namun nyatanya WHO kali ini dibuat pusing karena laporan terbaru memprediksi adanya lonjakan kasus malaria, seperti dikutip dari laporannya pada Kamis (23/4) kemarin. Seperti misalnya di negara-negara Afrika sekitar Gurun Sahara, dimana 94 persen korban jiwa akibat malaria berasal dari sana.

Kondisi yang serba terbatas di tengah wabah virus Corona menyebabkan pelayanan pencegahan malaria menjadi terhambat. Seperti misalnya distribusi kelambu dan "jaring" nyamuk yang pada akhirnya berpotensi meningkatkan jumlah kasus positif dan pasien meninggal malaria.


"(Seharusnya) dalam kondisi lockdown seperti sekarang, layanan-layanan kesehatan yang penting harus tetap dilanjutkan," ujar Direktur WHO untuk wilayah Afrika, dikutip pada Jumat (24/4). WHO, dengan menggandeng organisasi-organisasi nirlaba serta relawan, berusaha sedaya upaya untuk tetap bisa memberikan bantuan kesehatan yang terhambat akibat protokol penanganan Corona.

Di sisi lain, faktor keterbatasan ekonomi serta sarana dan prasarana kesehatan menjadi hal lain yang membuat penanganan wabah Corona di Afrika begitu berat. Seperti misalnya warga di Dakar, Senegal yang harus puas mengganjal perutnya hanya dengan susu karena lockdown demi menangkal Corona menyebabkannya kehilangan pekerjaan.

Baru-baru ini pula Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (WFP United Nations) memperkirakan jumlah masyarakat yang kelaparan bisa melonjak sampai 2 kali lipat. Tahun ini, WFP memproyeksikan ada 265 juta orang mengalami kerawanan pangan, jauh berbeda dengan 135 juta di periode yang sama tahun lalu.

"Dengan COVID-19, saya ingin menekankan bahwa kita tak hanya menghadapi pandemi kesehatan global, tetapi juga krisis kemanusiaan global," jelas Direktur Eksekutif WPF, David Beasley, dalam video konferensinya dengan Dewan Keamanan PBB, Selasa (21/4) waktu setempat. "Jutaan warga sipil yang tinggal di negara konflik, termasuk banyak anak-anak dan wanita, semakin dihadapkan pada risiko kelaparan."

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait