Sejumlah negara di dunia melaporkan jumlah pasien laki-laki yang meninggal karena COVID-19 lebih banyak dibandingkan dengan wanita. Apakah benar jenis kelamin menjadi faktor penentu risiko kematian akibat virus corona?
- Nidya Putri
- Jumat, 24 April 2020 - 16:24 WIB
WowKeren - Virus corona yang menyerang saluran pernapasan itu menjadi momok yang mengerikan. Pasalnya, virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan COVID-19 itu bisa menjangkiti siapa saja, tak peduli laki-laki, perempuan, tua, muda, anak-anak hingga bayi baru lahir.
Dikutip dari Science Alert di beberapa negara terdampak wabah COVID-19 seperti Tiongkok, Italia, Amerika Serikat dan Australia tercatat korban meninggal akibat virus ini kebanyakan adalah kaum Adam.
Seperti di negara Italia dimana jumlah kematian yang disumbangkan kaum laki-laki dua kali lipat lebih banyak dari perempuan. Sedangkan di New York, Amerika Serikat, tak kurang dari 61 persen pasien laki-laki yang nyawanya tak terselamatkan akibat COVID-19.
Lantas, benarkan risiko kematian akibat COVID-19 pada laki-laki lebih besar dibandingkan dengan perempuan? Apa yang menyebabkan hal ini terjadi?
(wk/nidy)1. Faktor Usia
Usia merupakan salah satu faktor yang memicu virus COVID-19 menjadi ganas. Tak sedikit orang-orang dengan usia lanjut tak berhasil selamat dari penyakit ini.
Di Australia sendiri jumlah pasien COVID-19 yang meninggal kebanyakan adalah laki-laki lansia dengan rentang usia antara 70 hingga 79 tahun serta 80 hingga 89 tahun. Namun, alasan terkait usia ini sepertinya tidak bisa dijadikan patokan pasti lantaran secara global jumlah wanita lansia lebih banyak dibandingkan dengan pria.
2. Penyakit Bawaan
Faktor lain yang bisa membuat seseorang menjadi sangat rentan terhadap COVID-19 adalah penyakit kronis yang sebelumnya diderita oleh pasien. Berbagai studi menunjukkan pasien dengan penyakit-penyakit bawaan berisiko besar untuk mengalami komplikasi karena virus yang lebih "merusak".
Penyakit bawaan yang kerap disebutkan adalah jantung, diabetes, dan kanker. Beberapa penyakit yang mengganggu fungsi organ vital manusia tersebut biasanya kerap diderita oleh kaum Adam dibandingkan kaum Hawa.
3. Faktor Biologis Pria dan Wanita Berbeda
Perlu dipahami, secara biologis pria dan wanita memiliki kromosom seks yang berbeda. Kromosom Y adalah kromosom seks yang membawa sifat laki-laki. Sedangkan kromosom X berisi sifat-sifat kewanitaan.
Kromosom Y pada laki-laki hampir tidak mengandung gen selain SRY, namun ada banyak sekuens DNA yang berulang yang belum diketahui fungsinya sehingga disebut pula dengan DNA sampah. Ini bisa mempengaruhi proses penuaan pada pria yang terjadi lebih cepat sehingga membuat mereka lebih rentan terhadap virus.
Hormon testosteron yang dilepaskan oleh gen SRY juga kerap dikaitkan dengan banyak penyakit terutama jantung dan dapat juga mempengaruhi panjang usia seseorang. Selain itu, rendahnya tingkat estorogen dalam tubuh pria membuat mereka rentan dari segala penyakit terutama yang menyerang jantung.
4. Pria Cuma Punya Kromosom X Tunggal
Kromosom X mengandung lebih dari 1.000 gen dengan berbagai jenis fungsi termasuk dalam urusan metabolisme, pembekuan darah dan perkembangan otak. Kehadiran 2 kromosom X pada wanita (XX) memberikan semacam penyangga jika ada gen pada X bermutasi.
Sedangkan laki-laki yang memiliki unsur XY tidak memiliki cadangan kromosom X. Hal ini menyebabkan laki-laki berisiko mendertita penyakit seperti hemofilia atau pembekuan darah yang buruk.
5. Sistem Kekebalan Tubuh Perempuan Lebih Kuat Dari Laki-laki
Para ilmuwan sepat bahwa perempuan memiliki sistem kekebalan yang lebih kuat daripada pria. Setidaknya ada 60 gen respons imun pada kromosom X, yang membuat sistem pertahanan tubuh wanita menjadi lebih kuat.
Hal inilah yang membuat perempuan bisa bertahan dari serangan virus termasuk SARS dan MERS. Namun, hal ini tak sepenuhnya baik lantaran perempuan justru lebih rentan terhadap penyakit autoimun seperti lupus.