Hal ini diungkapkan oleh Penasihat Divisi Sains dan Teknologi Untuk Sekretaris Departemen Keamanan Dalam Negeri AS, William Bryan. Temuan ini pun memunculkan harapan bahwa penyebaran Covid-19 dapat berkurang selama musim panas.
- Bertilia Puteri
- Jumat, 24 April 2020 - 16:45 WIB
WowKeren - Riset terbaru dari Amerika Serikat (AS) mengklaim bahwa virus corona (Covid-19) cepat mati jika terkena sinar matahari secara langsung. Hal ini diungkapkan oleh Penasihat Divisi Sains dan Teknologi Untuk Sekretaris Departemen Keamanan Dalam Negeri AS, William Bryan, dalam pernyataannya pada Kamis (23/4).
Menurut Bryan, para ilmuwan yang bekerja untuk pemerintah menemukan bahwa sinar ultraviolet (UV) memiliki dampak kuat terhadap virus corona. Temuan ini pun memunculkan harapan bahwa penyebaran Covid-19 dapat berkurang selama musim panas.
"Pengamatan kami yang paling mencolok hingga saat ini adalah efek kuat yang dimiliki cahaya matahari untuk membunuh virus, baik di permukaan maupun di udara," tutur Bryan dilansir The Jakarta Post. "Kami telah melihat efek yang serupa dengan suhu dan kelembaban juga. Di mana peningkatan suhu dan kelembaban atau keduanya umumnya kurang menguntungkan bagi virus."
Lebih lanjut, Bryan juga menunjukkan sejumlah temuan besar dalam riset tersebut. Apabila virus tersebut menempel pada permukaan tanpa pori, maka waktu yang dibutuhkan hingga virus tersebut berkurang menjadi separuh adalah 18 jam dalam suhu 70-75 derajat Fahrenheit (21-24 derajat Celcius) dengan kadar kelembaban 20 persen.
Contoh permukaan tanpa pori yang dimaksud adalah benda-benda seperti gagang pintu dan stainless steel. Namun, waktu yang diperlukan turun menjadi 6 jam jika kelembaban naik menjadi 80 persen, dan hanya diperlukan waktu 2 menit jika ada sinar matahari.
Namun apabila virus tersebut melayang di udara (aerosolized), maka waktu yang dibutuhkan hingga virus tersebut berkurang menjadi separuh adalah 1 jam dalam suhu 70-75 derajat Fahrenheit (21-24 derajat Celcius) dengan kadar kelembaban 20 persen. Jika ada sinar matahari, maka waktu yang diperlukan pun menurun menjadi satu setengah menit.
Bryan lantas menyimpulkan bahwa kondisi seperti musim panas akan menciptakan kondisi dimana penularan dapat dikurangi. Namun ia menegaskan bahwa pengurangan penyebaran virus bukan berarti patogen akan hilang seluruhnya. Oleh sebab itu, pedoman jarak sosial tidak bisa sepenuhnya dicabut.
"Ini hanyalah senjata lain dalam melawan (virus) ini yang bisa kita tambahkan," pungkas Bryan. "Kita tahu bahwa kondisi seperti musim panas akan menciptakan lingkungan di mana penularan bisa diturunkan dan itu adalah kesempatan bagi kita."
Meski demikian, riset tersebut belum dipublikasikan untuk umum dan masih menunggu evaluasi eksternal. Dengan demikian, para ahli independen pun masih belum bisa menilai seberapa kuat metodologi yang digunakan dalam riset tersebut.
(wk/Bert)