Tak hanya membantah disinformasi, Tiongkok juga memperingatkan bahwa manuver politik di balik seruan untuk melakukan penyelidikan independen terhadap asal-usul virus corona tidak akan berhasil.
- Luthfiatun Nisa
- Selasa, 28 April 2020 - 01:01 WIB
WowKeren - Pemerintah Tiongkok membantah menyebarkan disinformasi tentang virus corona (COVID-19) yang menyebar dari Wuhan ke seluruh penjuru dunia. Pernyataan itu merupakan respons Beijing atas laporan Uni Eropa yang menyebut ada bukti signifikan bahwa Negeri Tirai Bambu tersebut tidak transparan dan menutupi informasi sebenarnya soal virus corona.
"Tiongkok menentang pembuatan dan penyebaran disinformasi oleh siapa pun dan organisasi apa pun. Tiongkok adalah korban disinformasi, bukan penggagas," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Geng Shuang, dalam jumpa pers reguler pada Senin (27/4), seperti dikutip dari CNBC.
Pada kesempatan itu, Geng Shuang juga menegaskan tak ada bukti konklusif bahwa virus corona berasal dari Tiongkok. Dia memperingatkan, manuver politik di balik seruan untuk melakukan penyelidikan independen terhadap asal-usul virus tidak akan berhasil.
Sebelumnya, para pejabat senior Tiongkok dilaporkan telah menekan Uni Eropa untuk membatalkan kritik dari laporan yang dilayangkan pekan lalu. Laporan itu diterbitkan akhir pekan lalu setelah penundaan dan beberapa informasi mengenai Tiongkok telah diubah.
Juru bicara Uni Eropa masih enggan memberikan komentar mengenai hal tersebut. Selain disinformasi, Tiongkok juga dituding tak transparan dalam menyampaikan informasi tentang virus corona.
Hal itu membuat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyerukan dilakukannya penyelidikan independen untuk menyingkap asal-usul virus. Pemerintahan Trump curiga virus corona berasa dari sebuah laboratorium di Wuhan.
Perdana Menteri Australia Scott Morrison menggemakan seruan Trump. Menurutnya, semua negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) harus mendukung penyelidikan independen tersebut.
"Jika Anda akan menjadi anggota klub seperti WHO, harus ada tanggung jawab dan kewajiban yang melekat pada itu. Kami ingin dunia menjadi lebih aman ketika berbicara virus. Saya berharap negara lain, baik Tiongkok atau siapa pun, akan berbagi tujuan tersebut," kata Morrison kepada awak media di Canberra pada Kamis pekan lalu.
Bukan hanya itu saja, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo juga menuding bahwa Tiongkok telah menyembunyikan virus corona sejak awal November 2019 lalu. Tudingannya tersebut menyusul pernyataannya tentang Tiongkok yang dinilainya sama sekali tak transparan soal virus corona dan membuat banyak negara menjadi kesulitan menghadapi pandemi ini.
"Anda akan ingat bahwa kasus-kasus pertama ini diketahui oleh pemerintah Tiongkok mungkin paling cepat pada awal November, tetapi pada pertengahan Desember (baru terungkap ke publik)," kata Pompeo dalam sebuah wawancara.
"Mereka lambat mengidentifikasi ini untuk siapa pun di dunia, termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)," lanjutnya. "Masalah transparansi ini penting bukan hanya sebagai masalah historis untuk memahami apa yang terjadi pada bulan November dan Desember dan Januari, tetapi juga penting hingga hari ini," tegasnya.
Pompeo mengatakan Amerika Serikat masih menginginkan lebih banyak informasi dari Tiongkok termasuk sampel asli virus COVID-19 yang terdeteksi di kota metropolitan Wuhan. "Ini masih berdampak banyak kehidupan di sini di Amerika Serikat dan, terus terang, di seluruh dunia," imbuhnya lagi.
Pemerintah Tiongkok sendiri telah membalas pernyataan Pompeo dan mengatakan bahwa tuduhan Menlu AS tersebut sama sekali tidak berdasar dan sepenuhnya untuk tujuan menyalahkan orang lain. Menurut mereka, komentar Pompeo bertentangan dengan konsensus umum komunitas global. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Geng Shuang, mengatakan bahwa negaranya telah memberikan informasi yang tepat waktu kepada dunia dan aktif bekerja sama dengan yang lain.
(wk/luth)