Ini Alasan Angka Kematian COVID-19 di Singapura Rendah Meski Jumlah Kasus Positif Tertinggi se-ASEAN
Getty Images
Dunia

Hingga Selasa (28/4), Singapura telah melaporkan 14.951 kasus COVID-19. Dari total jumlah kasus COVID-19 tersebut, hanya 14 orang yang dilaporkan meninggal. Sedangkan yang dinyatakan sembuh kini mencapai 1.095 pasien.

WowKeren - Singapura kini menjadi negara dengan kasus COVID-19 tertinggi di Asia Tenggara. Hingga Selasa (28/4), Singapura telah melaporkan 14.951 kasus COVID-19.

Meski demikian, angka kematian akibat COVID-19 di Singapura justru sangat rendah. Dari sekitar 14 ribu pasien COVID-19, hanya 14 orang yang dilaporkan meninggal dunia. Sedangkan pasien yang dinyatakan sembuh kini mencapai 1.095 orang.

Sebagai perbandingan, Malaysia yang merupakan negara tetangga melaporkan 17 orang dari setiap 1.000 pasien positif COVID-19 meninggal dunia, sementara Indonesia melaporkan 84 orang dari setiap 1.000 pasien positif COVID-19 meninggal dunia. Sementara itu, secara global tingkat kematian COVID-19 mencapai 70 orang dari setiap 1.000 pasien positif. Sedangkan di Singapura sendiri, perbandingan kematian tersebut hanya mencapai 0,85 orang dari setiap 1.000 pasien positif.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hal tersebut membuat Singapura sukses dalam menangani corona karena tujuan utama tindakan kesehatan masyarakat adalah menyelamatkan nyawa. Pakar kesehatan lantas mengungkapkan sejumlah kombinasi faktor yang membuat tingkat kematian COVID-19 di Singapura bisa begitu rendah.

Yang pertama, kebanyakan kasus COVID-19 baru di Singapura menjangkit orang-orang berusia muda. Sebagian besar terdiri dari pekerja migran yang tinggal di asrama besar.

Yang kedua, para warga lansia dengan kondisi kronis yang paling rentan telah mendengarkan anjuran pemerintah untuk tetap berdiam di rumah. Hal ini dilakukan demi mengurangi kemungkinan penularan COVID-19.


Sebagai informasi, lebih dari 90 persen kasus COVID-19 yang ditemukan di Singapura belakangan ini merupakan pekerja asing dengan upah rendah yang tinggal di asrama. Pihak otoritas juga telah mengungkapkan bahwa sebagian besar pasien tersebut masih muda dan banyak yang hanya mengalami gejala ringan atau justru tidak bergejala sama sekali.

Menurut seorang spesialis penyakit menular, Leong Hoe Nam, kasus-kasus seperti itu telah "melemahkan" angka kematian di Singapura. Karena banyak pasien yang terinfeksi hanya menunjukkan gejala ringan, maka mereka pun dirawat di fasilitas isolasi masyarakat, bukan di rumah sakit.

Hal ini membuat ruang di rumah sakit lebih banyak tersedia untuk kasus yang lebih parah. Sementara itu, warga lansia yang lebih rentan telah berdiam diri di rumah. "Orang tua kita telah terlindung di rumah," ungkap Leong dilansir South China Morning Post pada Selasa (28/4).

Menurut Leong, jurus lain di balik kesuksesan Singapura menghadapi pandemi corona adalah memastikan bahwa peralatan untuk menangani kasus yang lebih parah sudah cukup tersedia. Leong juga menyebut bahwa tim medis di Singapura telah belajar dari pengalaman negara lain dan mengadaptasi metode perawatan.

"Kami belajar dari pengalaman. Kami semakin baik," jelas Leong. "Pemerintah juga sudah secara aktif mendekritkan pasien untuk mengantisipasi lonjakan kasus, hal ini membuat sumber daya tersedia bagi orang yang lebih membutuhkannya."

Sementara itu, Associate Professor dari Universitas Nasional Singapura, Jeremy Lim, mengungkapkan bahwa kunci sukses negaranya adalah sistem perawatan kesehatan tidak kewalahan oleh pasien yang membutuhkan perawatan kritis. Menurut Lim, Singapura memiliki sistem perawatan kesehatan yang sangat kuat dan kredibel.

"Tim klinis kami melakukan apa yang selalu mereka lakukan," pungkas Lim. "Memberikan perawatan holistik kepada pasien, mengatasi tidak hanya faktor-faktor terkait penyakit tetapi juga proaktif dalam mengoptimalkan aspek kesehatan lainnya seperti nutrisi dan aktivitas."

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait