Negara Lebanon kembali mengalami krisis ekonomi usai diserang pandemi COVID-19. Warga yang kelaparan akhirnya melakukan aksi protes dijalanan pada Senin lalu.
- Nidya Putri
- Rabu, 29 April 2020 - 10:02 WIB
WowKeren - Negara Lebanon tengah terpuruk di sektor ekonomi usai mewabahnya virus corona. Sektor ekonomi yang jatuh ini membuat berbagai gejolak terjadi di dalam negara tersebut.
Hal ini memicu aksi protes besar-besaran bagi rakyat karena meningkatnya kemiskinan dan kelaparan. Perekonomian Lebanon telah terhenti karena diterapkan lockdown demi memutus rantai penyebaran virus COVID-19.
Sejak pemberontakan rakyat mencengkeram negara itu pada akhir 2019, mata uangnya telah jatuh dan gagal bayar utangnya untuk pertama kalinya. Kini, setelah menerapkan lockdown selama dua bulan harga makanan semakin naik tapi mata uang disana semakin merosot.
Sebelum adanya wabah corona, Bank Dunia memproyeksikan bahwa 45% orang di Lebanon akan berada di bawah garis kemiskinan pada tahun 2020. Sekarang, pemerintah justru menyebutkan 75% dari warganya membutuhkan bantuan, ujar Menteri Sosial Lebanon Ramzi Musharrafieh.
Sejumlah pengunjuk rasa kembali melakukan aksi protes setelah jeda 2 bulan karena adanya wabah corona. Selain itu, jumlah penyebaran virus telah melambat menjadi kurang dari 10 kasus baru dalam sehari sehingga membuat para demonstran kembali ke jalan-jalan.
Sayangnya, aksi demo tersebut berakhir anarkis dimana bank-bank negara menjadi sasaran kemarahan rakyat. Pada video yang direkam saat terjadi aksi protes Senin lalu menunjukkan etalase hangus dan kendaraan tentara terbakar ketika bentrokan berkecamuk antara demonstran dan tentara di Tripoli, kota termiskin di Libanon. Demonstran bersorak setelah koktail Molotov membakar cabang bank, menurut rekaman itu.
"Masalahnya adalah Anda mengalami krisis gabungan, antara krisis ekonomi esensial dan krisis COVID-19," kata Musharrafieh. "Sayangnya, wabah COVID-19 ini justru memperparah situasi yang ada."
"Kami bekerja keras pada rencana ekonomi yang dapat mencoba menarik kami keluar dari situasi ini. Kami berada dalam posisi yang sulit tetapi kami berharap bahwa kami dapat keluar dari situ," tambahnya.
Sejak 2019, sektor perbankan telah memberlakukan kontrol modal diskresioner untuk menghindari terburu-buru pada bank. Pada hari kerja tertentu, barisan panjang orang dapat terlihat berbondong-bondong ke cabang-cabang bank berusaha mati-matian untuk meyakinkan teller untuk mengizinkan mereka menarik uang tunai. Hal ini memicu konflik yang berpuncak pada aksi yang digelar Senin lalu.
Sementara itu, warga Lebanon saat ini tidak terlalu memperhatikan persoalan wabah COVID-19. "Saya pikir coronavirus adalah yang paling tidak menjadi perhatian mereka," Mira Minkara, seorang pemandu wisata Tripoli, pengusaha dan aktivis mengatakan kepada CNN.
Pasalnya, negara tersebut mengalami krisis ekonomi serta kelaparan. Bahkan di seluruh Lebanon, orang-orang mencari tempat pembuangan sampah untuk makanan dan meminta orang yang lewat untuk roti. Menurut Komite Penyelamatan Internasional, 87% pengungsi di negara itu kekurangan makanan, dan mayoritas takut akan digusur.
(wk/nidy)