Permintaan PBB ini dibuat setelah Menteri Luar Negeri Bangladesh, AK Abdul Momen, menyatakan pihaknya tidak akan menerima ratusan pengungsi Rohingya yang terdampar di laut.
- Luthfiatun Nisa
- Rabu, 29 April 2020 - 16:05 WIB
WowKeren - Bangladesh menolak izin mendarat sekitar 500 pengungsi Rohingya yang terdampar di atas dua kapal pukat ikan di Teluk Bangal, pada Sabtu (25/4) waktu setempat. Menteri Luar Negeri Bangladesh, AK Abdul Momen, mengatakan bahwa para pengungsi Rohingya yang telah terdampar di laut dalam jangka waktu yang lama bukanlah tanggung jawab negaranya.
Atas hal ini, Pejabat Tinggi Bidang Hak Asasi Manusia PBB, Michelle Bachelet, mendesak Bangladesh untuk membiarkan dua kapal yang berisi muslim Rohingya untuk berlabuh. Bachelet menyebut aksi harus dilakukan untuk menghindari tragedi kemanusiaan karena muslim Rohingya di dalam kapal tersebut berada dalam kondisi kelaparan.
Bukan hanya itu saja, Bachelet juga mengingatkan Bangladesh tentang solidaritas di bulan suci Ramadan. "Dengan semangat solidaritas dan di awal bulan suci Ramadan, saya mengimbau Anda untuk membuka pelabuhan dan membiarkan kapal-kapal itu mendarat," tutur Bachelet dikutip dari CNN pada Rabu (29/4).
"Dilaporkan ada lebih dari 500 pria, wanita, dan anak-anak di atas kapal yang telah melaut dalam waktu yang lama dan kami paham bahwa mereka membutuhkan penyelamatan darurat, makanan, perawatan medis, dan bantuan kemanusiaan lain yang diperlukan," lanjutnya.
Permintaan PBB ini dibuat setelah Menteri Luar Negeri Bangladesh A.K Abdul Momen menyatakan pihaknya tidak akan menerima kapal tersebut. Sebelumnya, Momen mengklaim bahwa pengungsi Rohingya adalah tanggung jawab Myanmar alih-alih Bangladesh.
"Mengapa Anda bertanya kepada Bangladesh untuk mengurus Rohingya? Mereka berada di laut dalam, bahkan bukan di perairan teritorial Bangladesh. Adalah tugas Anda untuk bertanya kepada pemerintah Myanmar terlebih dahulu karena mereka adalah warga negara (Myanmar)," kata Momen.
Kedua kapal pukat diperkirakan membawa sekitar 500 pengungsi Rohingya yang terdiri atas wanita, pria, dan anak-anak. Kapal berada di Teluk Benggala setelah ditolak Malaysia yang memberlakukan pembatasan pada semua kapal sehubungan dengan pandemi virus corona (COVID-19).
Momen juga mengatakan bahwa beberapa minggu yang lalu, Bangladesh menyelamatkan total 396 orang Rohingya dari sebuah kapal yang telah terpaut sekitar dua bulan setelah juga gagal mencapai Malaysia. "Mengapa Bangladesh harus mengambil tanggung jawab setiap kali? Bangladesh telah mengambil lebih dari satu juta Rohingya. Kami kehabisan kedermawanan kami sekarang," ujarnya menambahkan.
Di sisi lain, pekan lalu Komisioner Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR) secara khusus meminta negara-negara di dunia untuk tak melarang para pengungsi Rohingya masuk meskipun ada krisis kesehatan virus corona.
UNHCR mengatakan para pengungsi Rohingya yang terdampar di laut menghadapi masalah yang mengerikan. Para pengungsi Rohingya mungkin telah berada di laut selama berminggu-minggu tanpa makanan dan air yang memadai. Oleh sebab itu, mereka meminta negara-negara mengizinkan para pengungsi untuk turun dari kapal terdampar dengan alasan kemanusiaan.
(wk/luth)