Korea Selatan mengabarkan ada sekitar 277 orang di negaranya yang kembali dinyatakan positif Corona setelah berhasil sembuh. Para ahli dan komite kesehatan mengungkapkan ternyata inilah penyebabnya.
- Wahyu
- Kamis, 30 April 2020 - 15:47 WIB
WowKeren - Korea Selatan berhasil mengendalikan penyebaran virus Corona. Namun, Negeri Ginseng tersebut memiliki masalah baru ketika pasien COVID-19 yang sembuh kembali terinfeksi virus Corona untuk kedua kali (reinfeksi).
Seperti yang diberitakan Yonhap, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea Selatan (KCDC) menyebut bahwa hingga Selasa (28/4), setidaknya ada 277 pasien COVID-19 yang kembali positif virus corona setelah sembuh. Hal ini tentunya menimbulkan kekhawatiran masyarakat Korea Selatan.
Kondisi ini langsung ditanggapi oleh Kepala Komite Kesehatan Korea Selatan, Oh Myoung-don. Ia mengatakan tidak ada tanda-tanda keberadaan virus hidup di pasien yang mengalami reinfeksi virus Corona. Artinya, ilmuwan Korea Selatan membantah hipotesis yang menyebut bahwa reinfeksi pasien COVID-19 disebabkan oleh hidupnya kembali virus Corona di tubuh manusia.
Lantas, bagaimana bisa pasien virus Corona yang telah sembuh terinfeksi kembali oleh virus tersebut? Menurut komite kesehatan nasional Korea Selatan, kasus infeksi ulang muncul karena potongan-potongan virus Corona yang telah mati tetap berada di tubuh pasien, dan kemudian muncul dalam alat tes PCR.
Korea Selatan sendiri menggunakan polymerase chain reaction (PCR) sebagai alat uji diagnostik virus Corona. PCR bekerja dengan menemukan informasi genetik virus, atau RNA, dalam sampel yang diambil dari seorang pasien. Para ahli di Korea Selatan mengatakan, tes PCR ini sangat sensitif sehingga masih dapat memindai sejumlah kecil RNA dari sel pasien, bahkan setelah orang tersebut pulih dari COVID-19.
"Fragmen RNA masih bisa ada dalam sel bahkan jika virus tidak aktif. Lebih mungkin bahwa mereka yang dites positif kembali mengambil virus RNA yang telah dinonaktifkan," papar Oh Myoung-don melansir dari Kumparan, Kamis (30/4).
Myoung-don mengatakan kasus infeksi ulang bisa jadi disebabkan karena keterbatasan teknis dari tes PCR. Ia menjelaskan virus Corona yang menyebabkan COVID-19 punya karakteristik yang berbeda dari penyakit HIV/AIDS dan hepatitis B, di mana virus tetap tersisa di dalam inti sel dan kemudian menyebabkan infeksi kronis. Menurutnya, hampir tidak mungkin virus diaktifkan kembali kecuali virus COVID-19 menyebabkan infeksi kronis.
"Virus COVID-19 tidak menyerang bagian dalam inti sel dan bergabung dengan DNA pasien. Itu berarti virus itu tidak menciptakan infeksi kronis," imbuhnya.
Hingga Rabu (29/4), pemerintah Korea Selatan melaporkan ada sembilan kasus baru COVID-19, menjadikan total infeksi virus Corona di negara tersebut menjadi 10.761 kasus. Menurut laporan Yonhap, ini menandai hari ke-11 berturut-turut di mana jumlah infeksi baru tetap berada di bawah 15 kasus per hari.
(wk/wahy)