May Day, Begini Curahan Hati Buruh dan Pekerja Harian di Dunia Saat Pandemi Corona
Dunia

Hari Buruh Internasional tahun ini terpaksa 'ditemani' oleh pandemi COVID-19. Kaum buruh dan pekerja harian pun menjadi segelintir masyarakat yang 'dihajar' telak oleh wabah ini.

WowKeren - Kalangan buruh dan pekerja harian memeringati Hari Buruh Internasional, atau dikenal juga sebagai May Day, pada hari ini (1/5). Biasanya mereka akan melakukan sejumlah aksi untuk menyuarakan aspirasi demi peningkatan kesejahteraan.

Namun hal itu tak bisa dilakukan tahun ini karena bersamaan dengan pandemi COVID-19. Padahal nyatanya kaum buruh dan pekerja harian sangat terdampak oleh pandemi ini, seperti disampaikan lewat video unggahan BBC News Indonesia berikut.

Mansyurruman, seorang buruh pabrik asal Sidoarjo, Jawa Timur sangat dibuat pusing oleh pandemi. Bukan hanya perkara kesehatan yang terancam oleh virus tersebut, tetapi juga kehidupannya dan keluarga yang juga terancam karena dirinya sudah kehilangan pekerjaan akibat wabah Corona.

"Wah (perasaan saya) campur aduk ini, pusing, tidak bisa tidur," ujar Mansyur. "Aduh, pikirannya bercabang-cabang."

Mansyur merupakan salah satu dari sekian banyak buruh yang diberhentikan sejak Maret 2020 kemarin. Alhasil ia kini hanya mengandalkan tabungan untuk membiayai kehidupannya, istri, beserta ketiga anaknya.


Namun tentu saja tabungan itu akan menipis seiring berjalannya waktu. "Mungkin hanya untuk satu bulan ke depan saja, (setelah itu) habis sudah," ujarnya.

Kisah pilu yang Mansyur alami bukanlah satu-satunya. Organisasi Buruh Internasional (ILO) mencatat sekitar 1,6 miliar orang berpotensi kehilangan pekerjaannya karena wabah COVID-19.

Seperti kisah hidup Rosa dan putrinya dari Mexico City, Meksiko, yang diberhentikan dari pekerjaan tanpa pesangon. Kini kehidupan mereka benar-benar hanya bergantung pada bantuan.

Namun tak hanya perkara perut yang membuat mereka pusing. Mereka mengaku mungkin tak lagi bisa memertahankan rumah tempat mereka bernaung karena tak ada lagi uang yang bisa dipakai untuk membayar biaya sewa.

Atau Anju, seorang mantan pekerja garmen di Dhaka, Bangladesh, yang nekat melanggar aturan karantina wilayah demi pulang kampung. Bukan tanpa alasan ia melakukannya, sebab menurutnya berada di desa membuatnya bisa bertani untuk memenuhi kebutuhan alih-alih bertahan di kota tanpa penghasilan.

Potret yang terjadi ini bak menyadarkan bahwa pandemi COVID-19 tak hanya berdampak bagi aspek kesehatan, tetapi justru sosial ekonomi. Di Indonesia sendiri pemerintah memberikan paket bantuan sosial bagi setiap masyarakat yang terdampak COVID-19.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait