Terapi antibodi monoklonal menjadi alternatif pengobatan lain yang tengah dikembangkan untuk mengatasi wabah COVID-19. Begini penjelasan para ahli soal terapi tersebut.
- Elvariza Opita
- Rabu, 06 Mei 2020 - 18:38 WIB
WowKeren - Sejauh ini berbagai pihak mengklaim vaksin sebagai metode pengobatan paling efektif menghadapi wabah virus Corona. Namun karena perkembangan produksi vaksin yang tergolong lambat, berbagai metode pengobatan dikembangkan.
Salah satu yang terbaru adalah terapi antibodi monoklonal. Para ilmuwan yang mengembangkan metode ini menyebut antibodi bisa mencegah virus SARS-CoV-2 menginfeksi sel tubuh manusia.
Sebagai informasi, antibodi monoklonal merupakan sejenis protein yang diciptakan secara in vitro alias di dalam laboratorium yang dapat terikat dengan bagian khusus sel atau virus. Tipe antibodi ini dapat menirukan bagaimana respons sistem imun terhadap ancaman. Biasanya terapi ini digunakan untuk mengatasi beberapa jenis kanker.
Dari beberapa antibodi yang diteliti, tipe 47D11 lah yang diklaim bisa terikat dengan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Alhasil virus yang terlanjur masuk ke dalam tubuh pun bisa dinetralisasi sebelum menimbulkan penyakit.
Berend-Jan Bosch, asisten profesor di Departemen Ilmu Infeksi dan Imunitas Universitas Utrecht menyebut penelitian ini sudah dikembangkan sebelum wabah Corona merebak. Kala itu mereka fokus untuk menemukan terapi antibodi yang cocok melawan virus-virus penyebab flu dan SARS secara umum.
"(Kami) menggunakan koleksi antibodi SARS-CoV, kami menemukan antibodi yang juga menetralisasi infeksi SARS-CoV-2," terang Bosch, dikutip dari Newsweek, Rabu (6/5). Pada prinsipnya, antibodi ini bisa menyebabkan reaksi klinis yang timbul akibat infeksi virus menghilang.
Profesor Frank Grosveld dari Ilmu Biologi Sel di Erasmus Medical Center, Rotterdam menyebut penemuan ini menunjukkan adanya potensi terapi antibodi monoklonal dalam melawan COVID-19. Pernyataan Grosveld pun diamini oleh para ilmuwan lain, meski mereka juga menyoroti adanya kelemahan besar dari terapi tersebut.
"Letak kelemahan terapi ini ada pada bagaimana sel bekerja," ujar Profesor Genetika Molekuler di Universitas Sussex, Tony Carr, lewat keterangan resminya. "Namun penelitian ini menunjukkan adanya potensi untuk dikembangkan menjadi terapi pengobatan COVID-19."
Dengan demikian masih bisa disimpulkan vaksin lah metode yang paling efektif mengatasi COVID-19. Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan sejumlah pakar kesehatan meyakini COVID-19 tak akan benar-benar pergi dari kehidupan manusia kecuali vaksinnya sudah ditemukan.
(wk/elva)