Hal tersebut muncul karena Prancis marah setelah raksasa farmasi mereka, Sanofi, menyatakan bakal mengirim vaksin virus corona (COVID-19) ke Amerika Serikat lebih dulu jika sudah tersedia.
- Luthfiatun Nisa
- Jumat, 15 Mei 2020 - 11:03 WIB
WowKeren - Pemimpin dunia, baik mantan maupun aktif, menyerukan agar vaksin virus corona (COVID-19) maupun pengobatan lainnya harus bisa diakses secara gratis. Seruan itu tertuang dalam surat yang ditandatangani oleh 140 petinggi negara. Seruan tersebut muncul karena Prancis marah setelah raksasa farmasi mereka, Sanofi, menyatakan bakal mengirim vaksin ke AS jika sudah tersedia.
Di antara petinggi-petinggi yang menyetujui seruan tersebut adalah Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa dan Perdana Menteri Pakistan Imran Khan. Dalam surat itu, mereka menyerukan agar vaksin virus corona tidak boleh dibagikan, dengan penelitiannya harus dibagikan ke seluruh dunia.
Penandatangan surat meminta agar Dewan Kesehatan Dunia (WHA) agar mendukung langkah itu. Rencananya, organisasi yang membawahi Badan Kesehatan Dunia (WHO) itu akan melangsungkan pertemuan tahunan mereka pada pekan depan.
Dikutip dari Kompas.com, surat itu juga menyatakan bahwa semua pemangku kepentingan, baik negara maupun organisasi internasional di seluruh dunia, harus bekerja sama. "Memastikan, ketika vaksin yang aman dan efektif dikembangkan, harus diproduksi dalam skala besar dan tersedia ke semua lapisan, gratis," demikian bunyi surat itu.
Pemimpin dunia yang mendukung langkah tersebut juga meminta agar metode pengobatan lain berkaitan dengan COVID-19 juga dibuat sama. Mereka yang memberikan dukungan antara lain mantan Presiden Irlandia Mary McAleese, mantan Perdana Menteri Inggris Gordon Brown, kemudian mantan Presiden Nigeria Olusegun Obasanjo, mantan Presiden Komisi Eropa Jose Manuel Barroso, serta eks Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf.
Di sisi lain, sebelumnya petinggi eksekutif Sanofi, Paul Hudson, mengatakan pengiriman vaksin diprioritaskan pada AS setelah Washington membantu pendanaan perusahaan mereka. "Mereka (AS) sudah berinvestasi untuk melindungi rakyatnya, membuka ekonominya. Saya sudah menerangkan bahwa AS akan memperoleh dosis pertama," tuturnya pada Bloomberg.
Sontak saja pernyataan Paul Hudson tersebut langsung menimbulkan kontroversi dan mendapat kecaman banyak pihak. Salah satunya adalah Perdana Menteri Prancis, Edouard Philippe. Dalam kicauannya di Twitter, Philippe menegaskan bahwa kesetaraan untuk mendapatkan pengobatan virus corona adalah hal tak bisa ditawar.
Sementara Wakil Menteri Keuangan Agnes Pannier-Runacher menyatakan bahwa dia tak bisa menerima jika ada keuntungan dari negara yang sudah memberi finansial terlebih dahulu. Surat yang akan diserahkan kepada WHA itu menerangkan, saat ini bukan waktunya pasar berbicara, atau negara kuat bertindak dan mendapat obat terlebih dahulu.
Kemudian ada pula Ramaphosa sebagai Ketua Uni Afrika menyatakan, dia ingin agar obat-obatan terkait COVID-19 bisa diberikan ke semua orang gratis. "Tidak ada yang boleh memaksa sebuah pihak berada di antrean paling belakang karena cara hidup atau pendapatan mereka," tegasnya.
(wk/luth)