Sejumlah negara telah melaporkan penurunan kasus positif corona (COVID-19). Meski begitu, WHO mengingatkan agar pemimpin negara memberi perhatian khusus akan adanya gelombang kedua corona.
- Nidya Putri
- Selasa, 26 Mei 2020 - 11:21 WIB
WowKeren - Sejumlah negara telah mengalami penurunan kasus positif corona (COVID-19). Seperti Amerika Tengah, Amerika Selatan, Asia Selatan, dan Afrika yang melaporkan adanya penurunan kasus COVID-19.
Meski begitu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan jika angka kasus terinfeksi penyakit COVID-19 di negara yang menurun, kemungkinan besar akan ada gelombang kedua (second wave) yang mengikuti.
"Dunia masih berada di tengah-tengah gelombang pertama dari penyebaran COVID-19. Sehingga akan berpotensi menghadapi gelombang kedua," ujar Direktur Eksekutif Program Darurat WHO Mike Ryan.
Ia melanjutkan jika penurunan kasus COVID-19 yang terjadi di beberapa negara tetap menjadi perhatian khusus para pemimpin pemerintahan. "Ketika kita berbicara tentang gelombang kedua, secara klasik adalah gelombang pertama penyakit yang akan kambuh berbulan-bulan kemudian. Ini mungkin dapat menjadi kenyataan bagi banyak negara dalam waktu beberapa bulan (mendatang), " kata Ryan dilansri Reuters.
Kemungkinan terjadinya gelombang kedua sangat berpengaruh oleh kebijakan atau keputusan yang diambil oleh pemerintah negara tersebut. Jika salah mengambil keputusan atau beranggapan bahwa penyebaran virus dengan nama resmi SARS-CoV-2 telah usai, maka potensi gelombang kedua akan lebih besar.
"Tetapi kita juga harus menyadari fakta bahwa penyakit ini dapat melonjak kapan saja. Kita tidak dapat membuat asumsi bahwa hanya karena penyakitnya sedang menurun," lanjutnya. "Kita mendapatkan beberapa bulan untuk bersiap-siap untuk gelombang kedua. Kita mungkin mendapatkan puncak kedua dalam gelombang ini."
Ryan mengatakan negara-negara di Eropa dan Amerika Utara harus terus menempatkan kesehatan masyarakat dan aturan jarak sosial, pengawasan, pengujian dan strategi yang komprehensif. "Untuk memastikan bahwa angka terus menurun dan kita tidak memiliki gelombang kedua," katanya.
Sementara itu, banyak negara Eropa dan negara-negara bagian AS telah mengambil aturan dalam beberapa pekan terakhir untuk melonggarkan penguncian (lockdown) karena lesunya ekonomi.
(wk/nidy)