Ilmuwan Jerman Yakin Kotoran Manusia Bisa Cegah Wabah Corona Meluas
Getty Images
Dunia
Pandemi Virus Corona

Jerman mengembangkan metode deteksi dini COVID-19 dengan objek yang cukup tak disangka, yakni kotoran manusia yang didapat dari limbah domestik. Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

WowKeren - Berbagai cara dan metode ditempuh untuk bisa mengakhiri wabah virus Corona. Selain mencari vaksin penangkal atau obat untuk mengatasi virus tersebut, metode deteksi yang tepat dan efektif juga penting untuk terus dikembangkan.

Salah satu yang ikut meneliti perihal metode deteksi ini adalah sekelompok ilmuwan asal Jerman. Yang tak disangka, para ilmuwan ini melirik objek yang cukup mengejutkan, yakni kotoran manusia.


Peneliti di Kota Leipzig, bekerjasama dengan National Institute of Health mencoba menemukan sampel materi genetik virus Corona diantara limbah domestik rumah tangga, yang termasuk mengandung bekas kotoran manusia. Pasalnya mereka meyakini virus Corona bisa dideteksi dari kotoran manusia, bahkan sebelum individu tersebut menjalani tes COVID-19.

Dilansir dari CNN, saat ini para peneliti terus berupaya untuk bisa mendapatkan sampel RNA virus SARS-CoV-2 dari limbah domestik tersebut. Prinsipnya, bila ditemukan sampel materi genetik virus dalam jumlah besar di suatu wilayah, maka fokus deteksi dini akan dikonsentrasikan di kawasan tersebut sebelum wabah merebak.

"Bayangkan seandainya kita bisa mendapatkan konsentrasi tinggi virus Corona di limbah, kita bisa mengestimasi berapa banyak individu terpapar Corona di Leipzig," kata Dr. Ulrich Mever selaku Direktur Teknik di Pengolahan Limbah Leipzig, Jerman. "(Bila bisa dikembangkan) tentu ini dapat memberi dampak signifikan dalam strategi memberantas COVID-19."

Jerman sendiri merupakan salah satu negara yang terus mengembangkan metode deteksi dini virus Corona dari limbah yang dihasilkan masyarakat. Namun yang menjadi tantangan terbesar adalah apakah peneliti bisa mendapatkan sampel virus diantara besarnya volume limbah serta banyaknya debris atau pengotor di media tersebut.

Ahli Virologi dari Pusat Studi Lingkungan Helmholtz, Dr. Rene Kallies membenarkan kesulitan tersebut. Menurutnya diperlukan metode pengerjaan berlapis untuk bisa mendapatkan sampel yang diharapkan, seperti dengan "mengecilkan" volume spesimen yang diperiksa dari limbah domestik dalam jumlah liter ke mikroliter.

"Kita punya limbah dalam jumlah besar, berliter-liter. Dan kita harus menyederhanakannya sampai level mikroliter agar bisa diproses lebih lanjut," jelas Kallies. "Itulah tantangan terbesarnya."

Namun para peneliti ini tak patah arang. Sebab bila berhasil, maka peneliti dan tenaga medis bisa mengantisipasi terjadinya wabah dengan lebih baik.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts