COVID-19 Disebut Lebih Mematikan di AS-Eropa Ketimbang Asia, Ini Penjelasannya
Health
Pandemi Virus Corona

Hingga Sabtu (30/5) hari ini, virus corona baru atau COVID-19 telah menjangkit 6.086.344 orang di seluruh dunia. Pandemi ini juga telah menelan korban jiwa sebanyak 368.462 orang.

WowKeren - Sejumlah peneliti hingga kini masih bertanya-tanya mengapa pandemi corona (COVID-19) tampak lebih mematikan di Eropa dan Amerika dibanding dengan di Asia. Hal ini tampak dari kasus kematian COVID-19 di Asia yang lebih rendah dibandingkan dengan di Eropa Barat dan Amerika Utara.

Bagi para peneliti tersebut, perbedaan tingkat kematian yang sangat siginifikan ini masih menjadi misteri. Meski demikian, para peneliti mengakui adanya perbedaan kebijakan tes, metode perhitungan, dan pelaporan kasus.

Sejumlah negara Asia juga bereaksi lebih cepat di awal penyebaran virus corona. Diketahui, negara-negara tersebut segera melakukan kebijakan pembatasan sosial dan menyelenggarakan tes massal dan pelacakan kontak yang masif. Para peneliti juga mempertimbangkan sejumlah faktor lain seperti perbedaan genetik dan respons sistem imun, perbedaan strain virus, faktor iklim, dan tingkat obesitas warga.

Peneliti dari Chiba University School of Pharmaceutical Sciences, Akihiro Hisaka, menemukan adanya perbedaan yang signifikan terkait angka kematian COVID-19 di sejumlah wilayah. Perbedaan tersebut dinilainya dapat menjadi landasan untuk menyelidiki tentang perbedaan dampak penyebaran COVID-19 di sejumlah negara.


Sebagai contoh, Tiongkok yang hingga kini telah melaporkan kurang dari 5 ribu kasus kematian COVID-19 memiliki rata-rata 3 kematian per 1 juta penduduk. Sementara itu, Jepang memiliki 7 kematian per 1 juta penduduk, India 3 kematian per 1 juta penduduk, dan Vietnam mencatat nol kematian per 1 juta penduduk.

Di sisi lain, Jerman mencatat 100 kematian per 1 juta penduduk dan AS 300 kematian per 1 juta penduduk. Kemudian Inggris, Italia, dan Spanyol yang mencatat lebih dari 500 kematian per 1 juta penduduk.

"Perbedaan regional harus dipertimbangkan lebih dulu sebelum menganalisa kebijakan atau faktor penentu lain yang mempengaruhi penyebaran COVID-19," ungkap Hisaka dilansir Washington Post pada Sabtu (30/5).

Sementara itu, ahli epidemiologi Columbia University, Jeffrey Shaman, menilai bahwa seluruh dunia menghadapi ancaman virus yang sama. Respons imun masyarakat juga dinilainya sama.

Yang menjadi perbedaannya adalah kemampuan tes massal, pelaporan kasus, dan kontrol informasi di setiap negara. "Tapi juga terdapat perbedaan terkait jumlah warga yang mengalami hipertensi, penyakit paru kronis, dan penyakit penyerta lainnya di tiap negara," pungkas Shaman.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts