DPRD DKI Kritisi Kebijakan 'Ngambang' Soal Pembukaan Sekolah di Tengah Wabah Corona
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Hingga saat ini Kemendikbud masih belum memutuskan kapan pastinya sekolah akan dibuka kembali. Hal ini kemudian mengundang kritik dari Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta.

WowKeren - Rencana untuk kembali membuka sekolah di tengah pandemi corona masih menuai pro dan kontra dari sejumlah pihak. Melihat permasalahan tersebut DPRD DKI Jakarta pun turut menyampaikan pendapatnya.

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Zita Anjani pun menyebut jika keputusan pemerintah tersebut tidak tegas. Ia justru menolak penutupan sekolah yang terlalu lama akibat pandemi COVID-19.


Menurutnya, banyak siswa yang stres akibat terlalu lama belajar di rumah. Ia menilai hal ini dapat mengakibatkan perkembangan emosional dan sosial para siswa terganggu.

"Anak-anak sudah stres. Perkembangan emosional dan sosialnya terganggu. Saya pendidik, ikatan batin saya dengan anak-anak rasanya sangat kuat," kata Zita dalam keterangan tertulisnya, Senin (1/6). "Tidak tahan rasanya lihat mereka tercabut dari dunianya. Negara harus menyiapkan dunia yang aman buat anak-anak, bukan menggantung bahkan menjauhkannya."

Zita menilai, baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah tidak memiliki rencana yang jelas dalam menyikapi permasalahan tersebut. Seharusnya pemerintah bertanggung jawab untuk memberikan ketenangan.

"Situasi tidak pasti. Yang dibutuhkan warga, kejelasan. Kalau sudah turun dari seribu ke enam ratus per hari, mall kita buka. Kalau udah turun dari enam ratus ke tiga ratus, sekolah kita buka," paparnya. "Kalau naik lagi, sekolah kita tutup lagi. Jadi, kita punya harapan dan ukuran. Tidak seperti sekarang, digantung."

"Pemerintah tidak punya rencana jelas, jadi macam-macam orang datang bawa rencana. Menteri ini dan menteri itu simpang siur," imbuhnya. "Wacana desember itu bentuk pesimisme orang sama pemerintah. Jangan hanya ekonomi-ekonomi terus."

Tak sampai di situ, Zita juga mempertanyakan kesiapan kementerian terkait dalam menyiapkan kurikulum belajar online. Selain itu, dia menilai prosedur penyelenggaraan pendidikan new normal masih belum bisa disampaikan.

"Infrastrukturnya perlu, misalnya wastafel yang jumlahnya memadai. Random test per dua minggu. No adult school selain guru, jadi contact tracing makin jelas," pungkasnya. "Bikin kurikulum online juga yang bisa jadi panduan. Kalau mau diskusi siapa saja ayuk, saya bisa jelaskan dari A sampai Z. Kalau ini siap, besok juga bisa buka sekolah. Kalau tidak disiapkan, Desember juga masih berisiko."

Sementara itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah menetapkan tahun ajaran baru 2020/2021 akan tetap dimulai pada 13 Juli 2020. Meski begitu, Kemendikbud belum bisa memastikan kapan sekolah akan dibuka kembali. Pasalnya, keputusan tersebut berada di tangan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts