Polisi Bubarkan Massa Demo George Floyd Dengan Bahan Kimia, Berpotensi Sebarkan COVID-19?
Dunia
Pandemi Virus Corona

Polisi menggunakan berbagai bahan kimia untuk mengusir para massa demo kematian George Floyd. Sayangnya, penggunaan bahan kimia tersebut justru menyebabkan penularan virus COVID-19.

WowKeren - Polisi menggunakan berbagai macam bahan kimia untuk membubarkan masa dalam aksi protes menuntut keadilan atas kematian George Floyd. Namun, penggunaan bahan kimia tersebut diduga dapat menyebarkan virus COVID-19.

Dikutip dari New York Post, Kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat mengatakan bahwa, bahan kimia yang digunakan oleh polisi untuk mengendalikan massa menyebabkan batuk yang dapat menyebarkan virus corona.

Direktur CDC, Robert Redfield mengatakan kepada Komite Alokasi Rumah bahwa dia khawatir protes George Floyd di seluruh negara akan menjadi "acara penyemaian" virus corona.

Hal tersebut berhubungan dengan catatan penularan yang cukup tinggi sebelum protes tersebut berlangsung. "Pasti batuk dapat menyebarkan virus pernapasan, termasuk COVID-19," kata Redfield dilansir New York Post.

Dia setuju dengan pendapat Mark Pocan, anggota kongres AS, bahwa bahan kimia yang digunakan untuk mengendalikan keramaian saat aksi protes dapat membuat orang batuk. "Itu pengalaman saya," kata Pocan.

"Saya pikir Anda mengangkat poin penting. Saya akan meneruskan poin ini ke rapat gugus tugas berikutnya." kata Redfield kepada Pocan.


Di luar Gedung Putih dan kota-kota AS yang terjadi kerusuhan saat aksi protes Floyd, polisi menggunakan senyawa berbasis capsaicin yang terkandung dalam semprotan merica dan bola merica. Tabung asap, gas air mata, dan granat flash-bang juga telah digunakan yang dapat menyebabkan berbagai gejala gangguan pernapasan.

Para pengunjuk rasa sendiri telah menyalakan kembang api dan membakar gedung-gedung dan tempat sampah yang penuh dengan plastik, hal tersebut dapat menimbulkan asap dan polusi udara.

Direktur CDC mengatakan kepada anggota parlemen bahwa ia khawatir tentang aksi protes dapat berdampak pada pandemi COVID-19, yang telah membuat hampir 2 juta orang Amerika Serikat sakit. Redfield mengatakan, orang-orang yang ikut dalam aksi unjuk rasa tersebut harus menjalani tes virus corona.

"Hal pertama yang saya harapkan adalah orang-orang yang ikut ambil bagian dalam protes damai ini, terutama jika mereka berada di daerah metropolitan yang benar-benar belum mengendalikan wabah sejauh yang kami inginkan, untuk melakukan tes (COVID-19)" pungkasnya.

Sementara itu, Gubernur Negara Bagian Minnesota, Tim Walz, meminta agar semua demonstran diuji COVID-19. Sebab sejak awal mula demonstrasi digelar, banyak pihak sudah khawatir unjuk rasa dapat menjadi klaster baru penyebaran COVID-19.

"Siapapun yang berdemonstrasi harus menerima tes COVID-19," ungkap Walz lewat postingan di Twitter-nya, Kamis (4/6) malam, seperti dikutip dari CNN. "Jika Anda pikir Anda telah terpapar, dapatkan tes lima hari setelah acara. Jika tes itu ternyata negatif, tes lagi 14 hari setelah acara."

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts