Badai Corona Belum Usai, Ahli Ingatkan COVID-19 Bukan Pandemi Terakhir dari Hewan Liar
Dunia

Perambahan liar mengancam habitat hewan sehingga meningkatkan potensi kontak hewan liar dengan manusia dan meningkatkan kemungkinan virus, bakteri, dan parasit menyebar ke manusia.

WowKeren - Pandemi virus corona (COVID-19) menjadi pukulan bagi dunia. Virus yang belum ditemukan vaksinnya ini masih menginfeksi banyak negara di penjuru bumi.

Seorang ahli kesehatan global mempelajari bagaimana dan di mana penyakit baur muncul. Untuk itu, mereka saat ini tengah mengembangkan sistem pengenalan pola untuk memprediksi penyakit hewan liar yang paling berbahaya bagi umat manusia.

Ilmuwan dari Universitas Liverpool Profesor Matthew Baylis menyebutkan jika manusia telah mengalami enam ancaman signifikan terkait penyakit selama 20 tahun terakhir. Kelima ancaman sebelumnya berhasil dihindari namun tidak demikian dengan yang keenam.

"Selama 20 tahun terakhir, kita memiliki enam ancaman signifikan - SARS, MERS, Ebola, flu burung dan flu babi," ujar Matthew dari dilansir BBC News, Selasa (9/6). "Kita telah menghindari lima peluru, namun yang keenam mengenai kita."


Ia mengingatkan jika virus corona bisa jadi bukan menjadi pandemi terakhir yang berpotensi menjangkiti manusia yang berasal dari hewan liar. "Dan ini bukan pandemi terakhir yang akan kita hadapi, jadi kita perlu untuk menilik penyakit dari alam liar secara lebih dekat," lanjutnya.

Ia bersama timnya membuat sebuah sistem prediksi pola yang menyediakan data tentang penyakit alam liar yang sudah diketahui oleh manusia. Dari ribuan bakteri, parasit, hingga virus, sistem ini akan mengidentifikasi petunjuk dari jenis spesies yang mereka ketahui untuk mengetahui mana yang memiliki ancaman tertinggi bagi umat manusia. Jika mereka sudah menemukan satu patogen yang menjadi prioritas maka para ilmuwan akan melakukan penelitian untuk menemukan langkah pencegahan sebelum wabah terjadi.

Sementara itu, Profesor Kate Jones dari University College London mengatakan jika meningkatnya risiko infeksi terhadap manusia tak lepas dari perilaku manusia terhadap alam itu sendiri. Perilaku manusia yang mengubah ekosistem menyebabkan terganggunya keseimbangan

"Jadi hilangnya keanekaragaman hayati dapat menciptakan lanskap," kata dia masih dilansir BBC News. "Yang meningkatkan kontak manusia-satwa liar yang berisiko dan meningkatkan kemungkinan virus, bakteri, dan parasit tertentu menyebar ke manusia."

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait