Brasil Dituding Manipulasi Angka Kematian COVID-19 Usai Berhenti Umumkan Jumlah Kasus
Reuters
Dunia

Para kritikus menuduh pemerintah Brasil sengaja melakukan itu untuk menghindari liputan bernada negatif yang dilakukan sebuah program televisi lokal, 'Jornal Nacional'.

WowKeren - Brasil dituding memanipulasi jumlah angka kematian akibat virus corona (COVID-19). Tuduhan ini datang sesaat setelah negara yang dipimpin oleh Presiden Jair Bolsonaro tersebut berhenti melaporkan jumlah total kematian dan kasus terjangkit, lalu merilis data yang bertentangan.

Dilansir The Jakarta Post pada Selasa (9/6), kecurigaan makin menguat setelah Kementerian Kesehatan Brasil melakukan serangkaian langkah yang tidak biasa dalam menyajikan angka COVID-19. Bahkan ketika infeksi melonjak dan negara ini ditetapkan menjadi episentrum baru penyebaran virus.

Data dari Kementerian Kesehatan sendiri merupakan sumber yang digunakan untuk menghitung statistik virus secara nasional. Namun pekan lalu, kementerian ini menunda penghitungan angka terjangkit dan kematian harian sekitar dua jam setengah, sebelum pukul 22.00 waktu setempat.

Selanjutnya kementerian mulai berhenti menerbitkan jumlah total kematian dan terjangkit. Pemerintah hanya merilis angka kasus selama 24 jam terakhir dari negara yang memiliki populasi 212 juta orang.

Para kritikus menuduh pemerintah Brasil sengaja melakukan itu untuk menghindari liputan bernada negatif yang dilakukan sebuah program televisi lokal. Sebelumnya, "Jornal Nacional" yang menjadi tayangan televisi populer di negeri itu, terus memberitakan update COVID-19.

Dugaan ini menguat setelah Bolsonaro seakan memberikan konfirmasi terkait tuduhan tersebut saat diwawancara. "Itulah akhir cerita untuk 'Jornal Nacional'," kata Presiden kontroversial tersebut.


Diketahui, pada Minggu (7/6) Kementerian merilis dua data harian yang berbeda tanpa menjelaskan atau menunjukkan data mana yang benar. Keesokan harinya baru diketahui jika beberapa data yang diberikan oleh pejabat kesehatan negara termasuk duplikat.

Kementerian itu juga mengadopsi metodologi dan situs web baru, di mana para korban akan dihitung pada hari mereka meninggal, daripada pada hari pengujian anumerta mengkonfirmasi diagnosis COVID-19. Mereka juga memindahkan pembaruan harian pada pukul 18:00. "Ini adalah kudeta statistik," tulis surat kabar Folha de Sao Paulo, salah satu yang paling banyak dibaca di Brasil, dalam tajuk rencana.

"Memanipulasi jumlah orang mati dalam pandemi adalah kejahatan," kata kolumnis berpengaruh Miriam Leitao di surat kabar Globo.

Kelompok media top, termasuk Folha dan Globo, mengumumkan mereka bekerja sama untuk merilis angka harian sendiri berdasarkan data yang dikumpulkan langsung dari pejabat kesehatan negara.

Senada dengan artikel kedua media tersebut, Hakim Agung Gilmar Mendes juga menuliskan, "Memanipulasi statistik adalah langkah yang digunakan oleh rezim totaliter." melalui akun Twitter miliknya.

Kementerian kesehatan Brasil saat ini dijalankan oleh seorang menteri sementara, setelah dua menteri pendahulunya digulingkan saat pertengahan pandemi setelah mengalami perselisihan dengan Bolsonaro.

Kini Brasil berada di posisi kedua, setelah Amerika Serikat atas kasus terjangkit terbanyak secara global. Hingga berita ini dirilis, Brasil memiliki 710,887 kasus COVID-19, dengan sebanyak 37,312 kematian dan 325,602 pasien berhasil sembuh.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait