Selandia Baru Batal Berikan Senjata Pada Polisi Usai Kasus Kematian George Floyd
AP
Dunia

Selandia Baru menyebut bahwa keputusan ini dibuat untuk melindungi suku minoritas dan komunitas kulit berwarna. Kekhawatiran itu berkaca dari tindakan sewenang-wenang oknum kepolisian AS.

WowKeren - Selandia Baru membatalkan rencana membentuk patroli polisi bersenjata, menilik dari kasus kematian warga sipil AS George Floyd yang menjadi sorotan internasional. Diketahui, rencana tersebut semula digagas demi meningkatkan keamanan publik pasca-penembakan massal masjid di Christchurch tahun lalu.

Dilansir dari CNN pada Rabu (10/6), Marama Davidson selaku salah satu ketua Partai Hijau mengatakan bahwa patroli polisi yang dipersenjatai membuatnya mengingat kasus di AS. "Kita hanya perlu melihat AS untuk melihat bagaimana hal-hal yang kejam dapat terjadi di bawah pasukan polisi yang dimiliterisasi," kata Davidson.

Davidson menegaskan bahwa keputusan ini dibuat untuk melindungi suku minoritas dan komunitas kulit berwarna. "Ini terutama terasa bagi suku minoritas dan komunitas kulit berwarna," ujarnya dalam surat terbuka kepada Komisaris Kepolisian Selandia Baru, Andrew Coster, pada Selasa (9/6).

Kekhawatiran Davidson itu berkaca dari tindakan sewenang-wenang oknum kepolisian AS. Tak sedikit kasus kekerasan dan penangkapan sewenang-wenang oleh polisi dialami oleh warga kulit berwarna dan minoritas lainnya di AS.


Seperti yang diketahui, George Floyd sendiri adalah seorang warga kulit hitam yang pekan lalu ditangkap oleh polisi Minneapolis. Ia tewas setelah dijatuhkan ke tanah kemudian lehernya dijepit menggunakan lutut.

Rekaman video yang beredar menunjukkan leher Floyd ditekan oleh petugas kepolisian Derek Chauvin selama 8 menit 46 detik. Chauvin dan ketiga rekannya kemudian dipecat dan didakwa melakukan pembunuhan tingkat tiga oleh departemen kehakiman. Kendati demikian, kematian Floyd masih menimbulkan demonstrasi besar-besaran di AS.

Kematian Floyd dinilai menjadi puncak amarah warga Amerika terkait diskriminasi dan sikap rasisme yang sistematis, terutama terhadap perlakuan aparat kepada warga kulit hitam dan minoritas.

Aksi protes pertama kali pecah di Minneapolis sehari setelah kematian Floyd hingga akhirnya menyebar ke seluruh penjuru AS. Demonstrasi dan gerakan solidaritas untuk Floyd dan anti-rasisme secara keseluruhan bahkan turut berlangsung di sejumlah negara Eropa, Amerika Latin, hingga Asia.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait