Presiden AS itu menilai para pimpinan negara bagian ketakutan sampai tak bisa mengendalikan demonstran. Anggapan ini langsung 'dimentahkan' dengan insiden bersembunyi di bunker.
- Elvariza Opita
- Jumat, 12 Juni 2020 - 14:55 WIB
WowKeren - Belum lama ini Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengecam pemerintah negara bagian yang dianggap tak cakap dalam mengendalikan massa. Kecaman ini tak lepas dari demonstrasi anti-rasisme yang terus meluas.
Seperti sebelumnya, Trump kembali mengancam akan menurunkan "kekuatan" pemerintah pusat untuk mengendalikan massa. Tak hanya itu, Trump juga sempat "mengejek" pemerintah negara bagian yang dianggap takut pada demonstran sampai tak berani mengambil tindakan.
"Ambil alih kembali kotamu, sekarang juga!" tegas Trump dalam cuitannya yang ditujukan kepada Wali Kota Seattle, Jenny Durkan dan Gubernur Washington, Jay Inslee. "Kalau Anda tidak bisa melakukannya, saya yang akan turun tangan. Ini bukan permainan (jangan diremehkan)!"
Tak hanya itu, Trump juga mengklaim Seattle sudah diambil alih oleh teroris lokal. "(Mereka) dikendalikan gerakan sayap kiri Demokrat, tentu saja. Tegakkan keadilan!" serunya, kembali "menyenggol" rival politiknya, Partai Demokrat.
Memang bukan sekali ini Trump menyeret pihak-pihak eksternal terkait demonstrasi anti-rasisme yang sedang terjadi. Sebelumnya bahkan Trump sempat menyebut demonstran lansia yang didorong sampai berdarah oleh polisi di Buffalo merupakan aktivis Antifa yang juga merupakan rival politiknya.
Menanggapi hal cuitan Trump tersebut, Walkot Durkan pun langsung membalas dengan tak kalah pedas. "Buat kami semua aman (dengan) kembali ke bunkermu," jawabnya.
Cuitan Durkan tak lepas dari sikap Trump yang sempat diberitakan berlindung ke bunker Gedung Putih bersama keluarganya ketika demonstran semakin beringas. Namun Trump berkilah ia hanya sedang memeriksa bunker alih-alih bersembunyi seperti yang diberitakan.
Di sisi lain demonstran masalah rasisme ini memang semakin meluas dan tak segan-segan menunjukkan anarkismenya. Yang terbaru bahkan polisi di Capitol Hill sampai tak lagi berani berjaga di pos dan membiarkan demonstran "mengambil alih" kota tanpa penjagaan.
Anarkisme yang terjadi pun sempat memaksa Trump mengancam untuk menurunkan pasukan tentara nasional. Namun kala itu ancamannya langsung dimentahkan oleh Menteri Pertahanan AS Mark Esper, yang sempat berujung pada pemecatan sang menteri.
(wk/elva)