Diejek Usai 'Ngumpet' di Bunker Saat Diserbu Demonstran George Floyd, Trump Beri Pembelaan Ini
AP/Ann Arbor
Dunia

Presiden AS Donald Trump menjadi bulan-bulanan masyarakat luas setelah dikabarkan bersembunyi di bunker ketika massa demonstran George Floyd mencoba menyerbu Gedung Putih.

WowKeren - Demonstrasi besar-besaran tengah terjadi di Amerika Serikat setelah seorang warga sipil berkulit hitam, George Floyd (46) menjadi korban rasisme polisi berkulit putih di Minneapolis, Minnesota. Sebagai pengingat, Floyd meninggal dunia setelah lehernya diinjak Derek Chauvin selama 9 menit.

Massa pun mengamuk, tidak terima dengan kerapnya tragedi rasisme dialami oleh warga kulit hitam di AS. Alhasil aksi massa meluas, bahkan sampai ada yang mencoba menerobos Gedung Putih.

Saat itulah Presiden AS Donald Trump dikabarkan bersembunyi di bunker bawah tanah bersama keluarganya. Aksinya ini pun menjadi bulan-bulanan masyarakat luas, bahkan ia sampai dijuluki "Bunker Boy" oleh sejumlah warganet.

Belakangan Trump pun menyampaikan rasa keberatannya atas ejekan-ejekan tersebut. Trump angkat suara dan membantah ia mengungsi ke bunker sebagai bentuk perlindungan. Ia hanya ke bunker karena urusan inspeksi.


"Itu pemberitaan yang salah," ujar Trump ketika diundang ke Fox Radio pada Rabu (3/6) waktu setempat. "Saya di sana hanya untuk waktu yang sangat singkat, semacam menginspeksi bunker."

Lebih lanjut, Trump menegaskan inspeksi bunker semacam itu sudah rutin dilakukannya. Namun Trump tak merinci alasan ia sampai harus melakukan inspeksi bersamaan dengan semakin meluasnya kerusuhan akibat massa demonstran kasus George Floyd.

"Saya biasa ke sana sekitar dua sampai tiga kali untuk melakukan inspeksi. Beberapa kali Anda memang harus turun memeriksa bunkernya," jelas Trump, seperti dilansir pada Kamis (4/6). "Saat itu saya ke sana, menginspeksi sejenak. Memang waktunya kebetulan bersamaan."

Di sisi lain demonstrasi berikut kerusuhan yang mengiringi terus meluas. Trump sendiri sudah beberapa kali menyampaikan rasa tidak sukanya atas kerusuhan yang terjadi, bahkan mengancam akan menurunkan militer apabila pemerintah masing-masing negara bagian gagal mengendalikan massa.

Sementara itu demonstrasi yang terjadi juga dikhawatirkan akan menjadi pusat klaster penyebaran wabah Corona. Apalagi belakangan satu pasukan pengaman di Minnesota dikonfirmasi positif COVID-19 dan belum tahu sudah seberapa jauh interaksinya dengan publik selama berjaga.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait