Corona Hantui Massa Demo George Floyd Usai 1 Pasukan Pengaman Minnesota Positif COVID-19
Dunia
Pandemi Virus Corona

Belum lama ini pasukan pengaman aksi massa yang memprotes aksi rasisme di AS dikonfirmasi positif mengidap COVID-19. Banyak pihak pun khawatir demonstrasi akan menjadi klaster baru penyebaran wabah.

WowKeren - Demonstrasi dan kerusuhan demi memperjuangkan keadilan bagi kaum kulit hitam yang mendapat tindak rasisme di Amerika Serikat terus meluas. Demi mengendalikan situasi, pemerintah setempat pun menurunkan aparat dari Tentara Garda Nasional.

Namun baru-baru ini seorang anggota dari Tentara Garda Nasional Minnesota (Minnesota National Guard) dikonfirmasi positif terinfeksi virus Corona sedangkan 9 lainnya menunjukkan gejala klinis COVID-19. Atas dasar itulah Tentara Garda Nasional Minnesota berencana untuk melakukan tes terhadap seluruh anggotanya.

Padahal demi mengendalikan aksi protes massa, Pasukan Garda Nasional sampai menurunkan sekitar 7 ribu personel. "Semua anggota kami diperiksa kesehatannya, termasuk untuk gejala COVID-19," ungkap Letnan Kolonel Dean Stulz selaku Juru Bicara Pasukan Garda Nasional Minnesota, Selasa (2/6).

Kini pasukan yang sudah dikonfirmasi positif COVID-19 itu pun telah diisolasi. "Penyaringan dan pengujian terhadap anggota yang ikut mengendalikan unjuk rasa telah menjadi bagian dari rencana kami sejak awal," tutur Stulz.


Namun demikian belum diketahui kapan para aparat itu akan menjalani tes COVID-19. Selain itu tak dipublikasikan pula kapan anggota terinfeksi dan sudah seberapa sering interaksi mereka dengan anggota lain serta masyarakat selama pengamanan demonstrasi.

"Kami telah melakukan upaya untuk mengenakan masker dan mendorong jarak sosial, namun ketika Anda membuat barikade melindungi orang atau bangunan, Anda bahu-membahu," kata Juru Bicara Pasukan Garda Nasional Minnesota yang lain, Scott Hawks. "Ini adalah risiko yang kami terima saat berseragam untuk menjaga keamanan publik dan memulihkan perdamaian dan ketertiban."

Di sisi lain, sejumlah pakar mengaku khawatir demonstrasi ini hanya akan membuat angka pasien positif COVID-19 di AS semakin membengkak. Apalagi kini sejumlah negara bagian mulai membuka kembali sektor-sektor besar perekonomiannya.

Sementara itu protes atas aksi rasisme yang dialami George Floyd dan warga kulit hitam lain terus bergulir. Tak hanya lewat demonstrasi, suara-suara ini juga disampaikan lewat media sosial. Salah satu gerakan terbaru adalah bertajuk "Black Day Out 2020" yang mengajak warganet untuk "menghitamkan" media sosial.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts