Ernest Prakasa turut menanggapi soal Bintang Emon yang disebut-sebut menggunakan narkoba. Ernest kemudian membeberkan kemungkinan pelaku penyebar fitnah tersebut.
- Lailatul Maghfiroh
- Selasa, 16 Juni 2020 - 08:51 WIB
WowKeren - Belum lama ini nama Bintang Emon masuk dalam trendiung topik Twitter karena dituding menggunakan narkoba. Beredar foto editan Bintang yang mengklaim memakai narkoba untuk jaga stamina. Selain itu, foto Bintang diedit sedang memakai bong seolah menguatkan isu ketagihan narkoba.
Mendengar rekannya difitnah, Ernest Prakasa langsung turut buka suara untuk menanggapi isu tersebut. Ernest memberikan pesan kepada Bintang untuk lebih berhati-hati lagi dalam membuat materi komedi yang berhubungan dengan politik.
“Soal Bintang Emon yang difitnah, gue hanya mau bilang satu hal: ada banyak pihak yang fasih bermain dengan modus operandi semacam ini, masing-masing dengan kepentingan yang berbeda. Jangan gegabah menuduh,” tulis Ernest di Twitter pada Senin, (15/6).
Rupanya cuitan Ernest tersebut malah dicibir netizen karena dianggap tidak membela Bintang. Namun Ernest menegaskan bahwa hal tersebut ia sampaikan sesuai dengan pengalamannya selaku komika yang lebih senior dari Bintang.
"Karena solider sama Bintang, lalu gue harus reaktif secara gegabah? Tentu kami dukung, baik personal maupun sosmed, tapi faktanya, hal-hal kayak gini tuh gak sesederhana itu,” tambah Ernest.
“Terserah kalau mau dikatain bela pemerintah. Gue hanya berusaha untuk tidak gegabah lalu tergiring," papar Ernest. "Yang pasti, kami dukung Bintang Emon karena khitahnya stand-up comedy adalah standing up. Menentang ketidakadilan.”
Sementara itu, lewat akun Instagram-nya Ernest menyarankan agar Bintang bisa bersikap santai menanggapi fitnah soal narkoba tersebut. Ernest juga membeberkan kemungkinan pelaku penyebar fitnah itu.
“Orang yang melakukan aksi fitnah terhadap Bintang, kalau menurut gua kemungkinannya ada tiga. Yang pertama memang ada pihak-pihak yang ada di kubu pemerintah yang merasa bahwa kritik Bintang bikin panas," papar Ernest. "Yang kedua, orang yang pengin memberikan kesan bahwa pemerintah tidak terima ‘Wah ini rezim otoriter’ untuk membentuk opini itu. Kemungkinan yang ketiga adalah orang-orang yang pengin bikin ramai untuk mengalihkan isu.”
(wk/lail)