Presiden AS itu mendadak menyebutkan soal keberadaan vaksin AIDS ketika ditanya soal perkembangan vaksin Corona. Benarkah demikian? Simak penjelasannya berikut.
- Elvariza Opita
- Kamis, 18 Juni 2020 - 18:56 WIB
WowKeren - Beberapa kali pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kerap menimbulkan kontroversi. Begitu pula dengan pernyataan terbarunya perihal keberadaan vaksin AIDS.
Untuk informasi, AIDS merupakan penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh virus HIV. Namun sampai sekarang diketahui belum ada vaksin yang bisa menangkal penyakit tersebut.
Pernyataan kontroversial ini Trump sampaikan ketika ia mengabarkan perkembangan terkini soal virus COVID-19. Menurutnya orang yang bertanggung jawab atas pengembangan vaksin Corona adalah mereka yang mumpuni dan telah mengembangkan vaksin AIDS.
"Sebelum akhir tahun ini, saya prediksi kita akan mendapatkan vaksin yang benar-benar bisa menyembuhkan COVID-19," ujar Trump, Selasa (17/6) waktu setempat. "Mereka yang mengembangkan vaksin ini adalah orang-orang terbaik yang telah berhasil mengembangkan vaksin AIDS."
"Anda semua tahu banyak pihak yang ikut berusaha membuat obat AIDS," imbuhnya, masih membanggakan para peneliti yang terlibat. "AIDS sudah seperti hukuman mati bagi seseorang. Tapi sekarang mereka bisa tetap hidup dengan bermodalkan pil (obat)."
Pernyataan Trump ini sontak menjadi bulan-bulanan, terutama dari kalangan aktivis HIV/AIDS. Kebanyakan dari mereka merasa khawatir masyarakat akan semakin memandang rendah para pasien HIV/AIDS atas kesalahan informasi yang disampaikan Trump tersebut.
Seperti Matthew Hodson, Direktur Eksekutif lembaga nirlaba NAM yang berkecimpung di bidang HIV/AIDS. Hodson menegaskan bahwa hingga kini belum ada vaksin yang bisa menangkal virus HIV dan para pasiennya hanya bertahan hidup dengan mengurangi keparahan gejala klinisnya menggunakan obat.
"(Obat ini) adalah pencapaian medis terbaik dalam 50 tahun terakhir," ungkap Hodson. "Dan obat ini bisa memberikan perlindungan terbaik terhadap HIV."
Tetapi ia tak menampik bahwa kesalahan informasi Trump bisa berdampak fatal. "Banyak sekali mitos dan hoaks soal HIV/AIDS, dan pernyataan Trump hanya menambah potensi ODHA akan dihakimi massa," beber Hodson, dikutip dari Newsweek, Kamis (18/6).
Ian Green, Direktur Eksekutif Terrence Higgins Trust yang juga berkecimpung di bidang yang sama ikut membenarkan pernyataan Hodson. "Misinformasi seperti ini hanya menghalangi upaya kita untuk memerangi HIV," tegas Green.
Profesor yang memimpin penelitian vaksin HIV di University of Edinburgh, Inggris, Andrew Leigh Brown, juga menegaskan bahwa hingga kini pihaknya masih terus berusaha mengembangkan vaksin. "(Sudah 35 tahun pengembangan) tapi sampai sekarang belum ada vaksin, bahkan belum ada kandidat yang benar-benar berpotensi," pungkasnya.
(wk/elva)