Ilmuwan Ungkap Bukti Virus Corona Berasal Dari Spanyol, Ada Kesamaan Dengan Pandemi 1918
Dunia

Ilmuwan memberikan bukti dan menjelaskan jika virus corona pertama ditemukan di Spanyol bukan Tiongkok. Terungkap ada persamaan pola penyebaran seperti pandemi 1918.

WowKeren - Ilmuwan baru saja mengungkapkan fakta baru jika virus corona (COVID-19) bukan berasal dari Tiongkok seperti yang selama ini diketahui. Jejak virus corona rupanya telah ditemukan di Spanyol sejak Maret 2019 lalu.

Seperti yang diketahui, Kota Wuhan di Tiongkok sejauh ini telah diyakini menjadi lokasi awal mula virus corona pertama kali muncul. Virus tersebut disebutkan telah bermutasi dari hewan ke manusia. Sejumlah peneliti lantas meyakini jika COVID019 berasal dari kelelawar di pasar ikan dan hewan di Wuhan.

Namun, Kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok, Wang Guangfa yang juga sempat terinfeksi COVID-19 dan berhasil sembuh meyakini jika virus corona bukan berasal dari Tiongkok. Ia berkaca pada penelitian yang dilakukan sejumlah ilmuwan yang mengklaim telah mendeteksi virus corona dalam air limbah di Barcelona, Spanyol pada Maret 2019 lalu.

Dilansir The Guardian, Peneliti dari Centre of Evidence-Based Medicine (CEBM) di Oxford University, Tom Jefferson telah menunjukan serangkaian bukti penemuan bukti virus corona. Ia mengklaim telah mendapatkan jejak keberadaan virus corona di seluruh dunia sebelum muncul di Asia.

Jefferson menjelaskan jika jejak virus corona telah ditemukan dalam sampel limbah di Spanyol, Italia, dan Brasil sebelum ditemukan di Tiongkok. Hal ini dibuktikan dari studi pracetak yang belum peer-reviewed dimana telah mengklaim menemukan keberadaan genom SARS-CoV-2 dalam sampel limbah Barcelona dari 12 Maret 2019.


Dalam sebuah wawancara dengan The Daily Telegraph, Jefferson telah menyerukan penyelidikan terkait virus tersebut yang tampaknya berkembang di lingkungan seperti pabrik makanan dan pabrik pengemasan daging. Jefferson lantas juga melakukan penelitian dan bekerja bersama dengan Direktur CEBM, Profesor Carl Heneghan untuk memahami penyebaran tersebut.

Jefferson meyakini jika penyelidikan ini dapat berpotensi mengungkap rute transmisi atau penularan corona baru, seperti melalui sistem sewerage atau fasilitas toilet bersama. Ia juga membeberkan bagaimana situasi ini memiliki pola penyebaran yang sama dengan Pandemi Spanyol 1918 silam.

”Hal-hal aneh seperti ini terjadi pada Flu Spanyol. Pada tahun 1918, sekitar 30 persen populasi Samoa Barat meninggal karena flu Spanyol dan mereka belum berkomunikasi dengan dunia luar,” jelas Jefferson. “Namun, diyakini bahwa flu Spanyol tiba di negara pulau di kapal kargo Talune pada tahun 1918.”

Lebih lanjut Jefferson mengungkapkan jika kepadatan penduduk bisa menjadi salah satu faktor virus corona muncul. Bahkan, ia menyebutkan semakin banyak bukti yang ditemukan terkait penularan virus corona melalui tinja lantaran ada COVID-19 dalam jumlah besar di limbah. Selain itu suhu 4 derajat Celcius di pembuangan air limbah dinilai Jefferson sebagai tempat yang ideal untuk virus.

”Ada cukup banyak bukti virus corona dalam jumlah besar di air limbah di semua tempat, dan semakin banyak bukti ada penularan lewat tinja,” terang Jefferson. “Ada konsentrasi tinggi di mana pembuangan limbah adalah 4 derajat Celcius, yang merupakan suhu ideal untuk virus. Dan pabrik pengepakan daging sering pada suhu 4 derajat Celcius.”

(wk/lian)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait