Mundur dari Organisasi Penggerak Kemendikbud, Muhammadiyah Beber Sejumlah Alasan
Nasional

Ormas yang lolos seleksi akan mendapatkan dana yang besarnya bervariasi. Untuk kategori gajah Rp 20 miliar, macan Rp 5 miliar, dan kategori kijang hingga Rp 1 miliar.

WowKeren - Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pengurus Pusat Muhammadiyah menyatakan mundur dari program Organisasi Penggerak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Adapun keputusan itu telah didasarkan pada sejumlah pertimbangan.

Organisasi Penggerak adalah sebuah program seleksi pelatihan guru yang dilakukan organisasi masyarakat. Program ini dibiayai dari dana hibah pemerintah. Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah jadi salah satu organisasi masyarakat yang lolos seleksi.

"Setelah kami mengikuti proses seleksi program Organisasi Penggerak Kemendikbud dan mempertimbangkan beberapa hal," kata Muhammadiyah melalui keterangan tertulis, Rabu (22/7). "Maka dengan ini kami menyatakan mundur dari keikutsertaan program tersebut."

Ormas yang lolos seleksi akan mendapatkan dana yang besarnya bervariasi. Untuk kategori gajah diberi dana hingga Rp 20 miliar, kategori macan dengan dana hingga Rp 5 miliar, dan kategori kijang dengan dana hingga Rp 1 miliar.

Salah satu alasan Muhammadiyah untuk memutuskan mundur adalah karena mereka menilai penetapan ormas yang lolos seleksi tidak jelas.


"Kriteria pemilihan organisasi masyarakat yang ditetapkan lolos evaluasi proposal sangat tidak jelas," kata Muhammadiyah. "Karena tidak membedakan antara lembaga CSR yang sepatutnya membantu dana pendidikan dengan organisasi masyarakat yang berhak mendapat bantuan pemerintah."

Selain itu, Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah merupakan lembaga besar yang memiliki 30 ribu satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Sehingga dengan begitu tidak sepatutnya organisasi ini mendapat dana hibah dari pemerintah.

"(Kami) tidak sepatutnya (mendapat dana dari pemerintah jika) diperbandingkan dengan organisasi masyarakat," lanjut mereka. "Yang sebagian besar baru muncul beberapa tahun terakhir dan terpilih dalam program Organisasi Penggerak."

Yayasan Putera Sampoerna lolos pada kategori Macan dan Gajah. Sedangkan Yayasan Bhakti Tanoto lolos pada kategori gajah sebanyak dua kali. Pemberian dana hibah ini telah menuai kritik. Salah satunya datang dari Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda.

"Mereka malah menerima dana atau anggaran negara untuk membiayai aktivitas melatih para guru," kata Syaiful. "Logikanya sebagai CSR, yayasan-yayasan perusahaan tersebut bisa memberikan pelatihan guru dengan biaya mandiri."

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts