'Klepon Bukan Kue Islami' Terkait Pilpres dan Politik SARA, MUI Minta Penegak Hukum Turun Tangan
Nasional

Topik 'klepon bukan kue islami' terus menjadi bahasan panas di Indonesia selama beberapa hari belakangan. MUI pun meminta penegak hukum mengusut tuntas meme heboh ini.

WowKeren - Viral meme yang menyebut kudapan klepon bukan makanan islami tampaknya terus menjadi bahasan panas. Selain menerima komentar pedas nan nyelekit dari warganet, meme ini rupanya ikut memancing emosi para pemuka agama karena dianggap dapat memicu terjadinya keributan dan permusuhan atas dasar suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Keresahan ini turut diungkap oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Bahkan Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Ni'am mendesak aparat hukum untuk turun tangan dan mengusut tuntas pengunggah serta penyebar meme tersebut.

"Aparat penegak hukum perlu mengusut tuntas pengunggah dan penyebar unggahan di media sosial," ujar Asrorun lewat pesan singkatnya, Rabu (22/7). "Karena secara nyata telah menyebabkan kegaduhan."

Lebih lanjut, Asrorun sendiri menilai unggahan soal klepon itu berpotensi melecehkan ajaran agama. Ia pun mengimbau agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh komentar-komentar miring, terutama seputar agama dalam perdebatan tersebut.


"Tidak terprovokasi dan terjebak pada komentar-komentar yang melecehkan ajaran agama," jelas Asrorun, seperti dilansir dari CNN Indonesia, Kamis (23/7). "Atau membangun stigma buruk terhadap agama."

Perihal meme viral soal tidak islaminya kue klepon ini pun sempat diselidiki oleh pakar media sosial Drone Emprit, Ismail Fahmi. Ismail pun menyelidiki asal-muasal meme tersebut dan mendapati fakta bahwa unggahan bermula dari Facebook sebelum kemudian "pindah" dan menjadi viral di Twitter hingga trending.

Tak hanya itu, Ismail juga menilai bahwa meme "klepon bukan kue islami" ini masih terkait dengan residu Pilpres 2019. Menurutnya ada perdebatan diantara kedua kelompok pendukung masing-masing mantan pasangan calon dan isu ini sendiri juga mengangkat sesuatu yang sensitif serta khas dari salah satu kelompok.

"Residu pilpres tampaknya masih sangat kuat. Perolehan suara yang tak jauh terpaut bedanya, jelas membuat dua cluster pro-kontra yang relatif seimbang pendukungnya. Ini tentu tidak mudah untuk dileburkan tanpa upaya serius. Setiap saat siap untuk saling 'serang'," beber Ismail dalam cuitannya di akun Drone Emprit.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts