Temuan mengejutkan, penelitian terbaru mengungkapkan jika sindrom patah hati ternyata bisa menjadi gejala baru virus corona yang cukup berbahaya. Begini penjelasannya.
- Ruth Meliana
- Jumat, 24 Juli 2020 - 08:53 WIB
WowKeren - Para peneliti di berbagai belahan dunia terus melakukan penelitian mereka terhadap virus corona, salah satunya mengenai gejala-gejalanya. Berbagai fakta seputar gejala baru COVID-19 pun sedikit demi sedikit mulai terungkap berdasarkan sejumlah penelitian pada virus yang masih tergolong baru ini.
Sejauh ini, gejala umum virus corona yang ringan adalah demam, pilek, sakit tenggorokan, dan batuk. Sedangkan untuk gejala berat dapat menyebabkan pneumonia dan gangguan sistem pernapasan yang cukup parah. Selain itu, ditemukan juga gejala seperti ruam dan konjungtivitis pada pasien COVID-19.
Kini, Penelitian terbaru dari ilmuwan di Cleveland Clinic kembali menemukan gejala virus corona yang cukup mengejutkan, yakni sindrom patah hati. Peneliti mengatakan jika sindrom patah hati ini sendiri bukan gejala langsung COVID-19. Namun, gejala itu disebut cukup berbahaya selama pandemi.
Dalam dunia medis, sindrom patah hati juga dikenal dengan nama stres cardiomyopathy. Kondisi ini terjadi ketika seseorang mengalami tekanan fisik dan emosional yang kuat sehingga menyebabkan disfungsi atau kegagalan pada otot jantung .
Sindrom patah hati ini memiliki gejala seperti serangan jantung. Penderita akan merasakan nyeri dada dan sesak napas. Selain itu, penderita sindrom patah hati juga bisa mengalami detak jantung tidak teratur, tekanan darah rendah, dan bahkan hilangnya kesadaran.
Pemicu sindrom patah hati ini terjadi akibat reaksi seseorang dalam menghadapi peristiwa stres dan trauma yang menyerang fisik atau emosional. Akibat reaksi tersebut, tubuh langsung melepaskan hormon stres yang mengurangi kemampuan jantung untuk memompa dara sehingga memicu kontraksi.
Ahli jantung sekaligus pemimpin riset, Ankur Kalra lantas menjelaskan kaitan antara sindrom patah hati dengan virus corona. Menurutnya, pandemi saat ini telah membuat banyak masyarakat dunia mengalami stres.
Hal ini bisa dikarenakan kehilangan seseorang yang dicintai akibat terinfeksi virus corona, khawatir tertular virus, dan kehilangan pekerjaan. Tak hanya itu, pandemi juga menyebabkan sebagian orang kesulitan kehidupan pribadi dan pekerjaan, serta adanya physical distancing yang membuat banyak orang mengalami isolasi sosial.
Tingginya faktor stres selama pandemi tersebut dapat berdampak buruk bagi fisik maupun emosional seseorang. Tingginya tingkat stres rupanya dapat menyebabkan seseorang berpotensi besar terkena sindrom patah hati
“Stres dapat memiliki efek fisik pada tubuh dan hati kita,” jelas Kalra seperti dilansir dari WFMJ, Jumat (24/7). “Sebagaimana dibuktikan oleh semakin meningkatnya diagnosis stres kardiomiopati yang kita alami.”
Peneliti kemudian melakukan riset terhadap 1.656 pasien yang mengalami sindrom patah hati akut selama empat periode prapandemi. Periode ini mencakup Maret-April 2018, Januari-Februari 2019, Maret-April 2019 dan Januari-Februari 2020.
Setelah itu, peneliti membandingkan hasil analisis data dengan temuan yang mereka dapat usai menganalisis 258 pasien yang mengalami kondisi serupa di masa pandemi. Penelitian pada masa pandemi dilakukan mulai 1 Maret hingga 30 April 2020.
Hasilnya, terbukti adanya peningkatan stres kardiomiopati selama masa pandemi. Sekitar 7,8 persen pasien positif virus corona ditemukan mengalami sindrom patah hati. Presentase tersebut melonjak drastis dari tingkat stres kardiomiopati selama empat periode prandemik, yakni hanya antara 1,5 dan 1,8 persen.”
Ahli kesehatan kemudian mengatakan jika perawatan diri merupakan cara terbaik untuk mengatasi kondisi sindrom patah hati di tengah pandemi virus corona. Orang yang mengalami tekanan stres yang tinggi disarankan untuk meminta bantuan ahli kesehatan.
”Meski pandemi terus berjalan, perawatan diri selama masa sulit ini sangat penting untuk kesehatan tubuh, khususnya jantung,” kata ahli jantung Grant Reed. “Olahraga, meditasi, dan terhubung dengan keluarga dan teman, sembari tetap melakukan protokol kesehatan dan physical distancing juga dapat membantu meredakan kecemasan.”
(wk/lian)