Seorang pengungsi Rohingya dikhawatirkan menjadi satu-satunya orang yang selamat dari sebuah kapal. Pengungsi tersebut telah melompat turun dari kapal yang menampung 24 orang lainnya.
- Luthfiatun Nisa
- Senin, 27 Juli 2020 - 11:07 WIB
WowKeren - Pejabat penjaga pantai menemukan seorang pengungsi Rohingya yang dikhawatirkan menjadi satu-satunya orang yang selamat dari sebuah kapal. Kapal tersebut disinyalir membawa sekurangnya puluhan pencari suaka yang diyakini mengalami kesulitan di lepas pantai Malaysia di dekat Thailand.
Dilansir dari Republika, kepala penjaga pantai untuk negara bagian utara Kedah dan Perlis, Mohamad Zawawi Abdullah, mengatakan seorang pria berusia 27 tahun bernama Nor Hossain ditahan oleh polisi setelah ia berenang ke pantai di pulau resor Langkawi. Berdasarkan informasi dari polisi, pengungsi Rohingya tersebut telah melompat turun dari kapal yang menampung 24 orang lainnya.
"Dia adalah satu-satunya yang berhasil berenang ke pantai dengan selamat," kata Zawawi. Operasi pencarian dan penyelamatan telah diluncurkan, tetapi seorang pejabat lain mengatakan tidak ada mayat atau orang yang selamat yang ditemukan.
Malaysia yang mayoritas Muslim adalah tujuan utama bagi Rohingya, yang menghadapi penganiayaan di tanah air mereka yang mayoritas beragama Budha di Myanmar. Kendati demikian, pihak berwenang Malaysia dalam beberapa bulan terakhir berusaha untuk menghentikan mereka dari kekhawatiran virus corona (COVID-19).
Setidaknya 700 ribu Muslim Rohingya yang melarikan diri dari penumpasan militer di Myanmar tiga tahun lalu telah berusaha untuk meninggalkan kamp-kamp pengungsi yang penuh sesak di distrik Cox's Bazar di Bangladesh. Sebagian nekat pergi dengan kapal yang menuju Malaysia dan negara tetangga Indonesia.
Zawawi mengatakan dua pesawat penjaga pantai dan dua kapal telah dikerahkan untuk mencari daerah yang diduga. Diketahui para pengungsi Rohingya sudah berada dalam kapal dan terombang-ambing di lautan selama beberapa waktu terakhir, serta dalam kondisi kelaparan. Kapal mereka sudah beberapa kali mendarat di beberapa perairan seperti Malaysia dan Bangladesh, namun ditolak otoritas setempat dengan alasan memberlakukan pembatasan pada semua kapal sehubungan dengan pandemi virus corona.
Di sisi lain, pada Juni lalu Pemerintah Indonesia memberikan izin pendaratan darurat bagi sebagian pengungsi Rohingya di Aceh Utara. Kepolisian Aceh mengonfirmasi bahwa nelayan lokal memindahkan para pengungsi ke kapal motor milik mereka karena kapal pengangkut barang yang sebelumnya ditumpangi pengungsi mengalami kerusakan.
Kapal tersebut sempat merapat ke daratan tetapi penumpangnya belum diizinkan turun, menunggu kebijakan otoritas setempat yang mempertimbangkan protokol penanganan pandemi corona (COVID-19).
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi kemudian menyatakan bahwa otoritas mengizinkan para pengungsi mendarat dengan pertimbangan kemanusiaan. Para pengungsi Rohingnya akhirnya dievakuasi ke daratan Pantai Lancuk di Kecamatan Syamtalira Bayu.
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri RI melaporkan jumlah pengungsi sebanyak 94 orang, yang terdiri dari 49 perempuan, 15 laki-laki, dan 30 anak-anak. Namun menurut data terbaru setelah pengungsi mendarat, jumlahnya adalah 99 orang, terdiri atas 48 perempuan, 17 laki-laki, serta 34 anak-anak berdasarkan catatan UNHCR.
(wk/luth)