Ahli Virologi menjelaskan penyebab utama munculnya ledakan kasus virus corona di dunia. Rupanya, klaster presimtomatik jadi faktor pendorong tingginya angka infeksi COVID-19.
- Ruth Meliana
- Senin, 27 Juli 2020 - 12:01 WIB
WowKeren - Penyebab utama virus corona (COVID-19) terus menyebar dan meluas secara cepat baru-baru ini diungkapkan oleh ahli virologi. Seorang ahli virologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Tohoku Jepang, Hitoshi Oshitani mengungkapkan klaster presimtomatik menjadi salah satu alasan munculnya banyak ledakan kasus COVID-19 di berbagai belahan dunia.
Oshitani menjelaskan jika presimtomatik merupakan proses penularan virus corona dari orang yang tidak menunjukkan gejala (OTG). Menurutnya, saat ini banyak penduduk dunia yang terinfeksi virus corona namun tidak menyadari sehingga tanpa sadar menyebarkannya ke orang lain. Hal tersebut membuat laju kasus COVID-19 menjadi sulit dihentikan.
”Banyak data menunjukkan bahwa penularan presimtomatik (terinfeksi namun belum bergejala) cukup umum,” jelas Oshitani seperti dilansir dari DW, Senin (27/7). “Ini yang menyulitkan pengendalian virus COVID-19.”
Pasien virus corona yang tidak menunjukkan gejala sendiri telah dibagi menjadi dua bagian berdasarkan sejumlah penelitian. Yang pertama adalah asimtomatis (asymptomatic) yang artinya pasien terinfeksi tetapi sama sekali tidak pernah menunjukkan gejala. Lalu kedua adalah presimtomatis (presymptomatic), yakni terinfeksi dan tak bergejala tetapi sewaktu-waktu bisa muncul keluhan di kemudian hari.
Oshitani contohnya melalui penelitian terbarunya berhasil menganalisis dan mengungkap sejumlah klaster virus corona. Hasilnya, banyak pasien dari klaster virus corona yang ditemukan terdiri dari orang berusia muda yang tidak merasa sakit.
Studi yang diterbitkan dalam CDC's Emerging Infectious Diseases Journal ini telah meneliti lebih dari 3.000 kasus di Jepang. Dari angka tersebut, peneliti lantas mempersempit penelitian ke 22 orang yang kemungkinan menyebabkan klaster tersebut. Hasilnya, peneliti menemukan bahwa setengah dari orang-orang tersebut berusia antara 20-39 tahun.
Sementara itu, penulis utama studi ini sekaligus asisten profesor virologi Universitas Kyoto Jepang, Yuki Furuse mengaku sangat terkejut dengan hasil temuan tersebut. Apalagi, mayoritas kasus COVID-19 yang dilaporkan terjadi di Jepang saat itu terdiri dari orang-orang yang berusia 50-an hingga 60-an tahun.
Meski demikian, peneliti masih belum mengetahui faktor apa yang menyebabkan penyebaran infeksi virus corona ini banyak terjadi di kalangan kelompok yang berusia muda dan lebih tua. Namun, kemungkinan ada faktor sosial, genetik, atau gabungan dari keduanya.
(wk/lian)