Rambut Rontok dan Gangguan Pendengaran Diduga Gejala Baru COVID-19, Ini Kata Ahli
Getty Images
Health
Pandemi Virus Corona

Beberapa pasien COVID-19 mengeluhkan soal rambut rontok sampai gangguan pendengaran, bahkan beberapa bulan sesudah keluar dari RS. Para ahli pun memberi analisa soal kondisi ini.

WowKeren - COVID-19 dikenal sebagai penyakit berbahaya yang sedang mewabah sekarang namun tidak memiliki gejala klinis yang spesifik. Karenanya gejala-gejala baru terus diteliti setiap hari berdasarkan keluhan yang dirasakan pasien.

Termasuk diantaranya rambut rontok dan gangguan pendengaran seperti yang disampaikan oleh beberapa pasien COVID-19 beberapa waktu belakangan. Seperti Peggy Goroly dari Long Island yang rambutnya mulai rontok selama tiga bulan sejak ia merasakan gejala COVID-19 lainnya muncul.

Goroly sendiri mengklaim apa yang ia keluhkan juga dirasakan oleh yang lain, seperti diungkap dalam forum komunitas di Facebook. "Saya pergi ke sana (grup Facebook) suatu hari, dan seseorang memposting, 'Apakah ada yang kehilangan rambut?' Dan orang-orang benar-benar menunjukkan gumpalan rambut di tangan mereka," jelas Goroly, dilansir Business Insider, Sabtu (1/8).

Menurut Goroly, putrinya yang berusia 23 tahun juga mengalami gejala serupa usai dinyatakan positif terinfeksi virus Corona pada April 2020 kemarin. "Jadi aku tahu aku tidak gila sekarang," kata Goroly, merujuk pada banyaknya orang di sekitarnya yang ikut merasakan gejala serupa.

Sedangkan para ahli di University of Manchester, yang baru saja meneliti terhadap 121 orang dewasa di Rumah Sakit Wythenshawe, menemukan gejala menarik yang berbeda. Menurut mereka, ada sekitar delapan orang yang mengeluhkan kehilangan pendengaran bahkan sampai dua bulan setelah keluar dari rumah sakit. Lalu ada delapan lainnya yang merasakan denging di telinga mereka.

Menanggapi hal tersebut, para ilmuwan pun mencoba mengemukakan hipotesis mereka. Pasalnya sampai saat ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) maupun otoritas kesehatan lain seperti Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) belum menetapkan kehilangan pendengaran dan rambut rontok sebagai gejala COVID-19.


Dr Nate Favini, seorang pimpinan tim medis di Forward, menduga pasien COVID-19 mengidap gangguan yang disebut telogen effluvium. Kondisi ini membuat rambut berhenti tumbuh dan akhirnya rontok kira-kira tiga bulan setelah peristiwa traumatis, seperti terinfeksi COVID-19.

Kondisi ini membuat rambut orang tersebut, yang normalnya rontok sampai 100 helai per hari, mengalami yang jauh lebih parah sampai 3 kali lipat. Biasanya kondisi ini dialami oleh perempuan berusia 40 sampai 50 tahunan.

"Anda akan melihat peningkatan (kerontokan rambut yang lebih banyak) karena telogen effluvium," kata Favini. "Namun apakah selalu berkaitan dengan virus Corona, selalu ada peringatan bahwa kita belum memahami ini dengan baik."

Sementara Profesor Audiologi di Universitas Manchester, Kevin Munro, menyebut kehilangan pendengaran mungkin berkaitan dengan gejala klinis terinfeksi virus. Sebab biasanya virus bersifat merusak saraf, termasuk mengganggu yang berkaitan dengan indera pendengaran.

"Kita sudah tahu bahwa virus seperti campak, gondong dan meningitis dapat menyebabkan gangguan pendengaran," ujar Munro, dikutip New York Post. "Dan virus Corona dapat merusak saraf yang membawa informasi ke dan dari otak."

"Mungkin saja, secara teori, COVID-19 dapat menyebabkan masalah dengan bagian sistem pendengaran termasuk telinga tengah atau koklea. Misalnya, neuropati pendengaran, gangguan pendengaran di mana koklea berfungsi tetapi transmisi di sepanjang saraf pendengaran ke otak bisa menjadi fitur," pungkas Munro.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts