Musim Segera Berganti Disebut Bakal Kurangi Wabah COVID-19, WHO Bongkar Fakta Ini
Health
Pandemi Virus Corona

Sejumlah negara sub-tropis di belahan bumi utara akan menghadapi musim panas dalam waktu dekat, memunculkan spekulasi bahwa transmisi virus Corona akan berkurang. WHO pun angkat bicara soal ini.

WowKeren - Beberapa negara akan menghadapi perubahan musim dalam waktu dekat. Seperti Indonesia yang akan menghadapi musim hujan, atau negara sub-tropis belahan bumi utara akan memasuki musim panas, dan sebaliknya di negara sub-tropis belahan bumi selatan.

Pergantian musim ini, khususnya yang akan memasuki musim panas, memunculkan spekulasi bahwa penyebaran virus Corona akan berkurang. Hal ini didasari pada hasil penelitian tahap awal pandemi yang menyebutkan kasus lebih sedikit terjadi di lingkungan dengan iklim yang hangat.

Namun benarkah semua spekulasi tersebut? Lewat laman resminya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan sejumlah mitos tentang pandemi COVID-19, termasuk soal berjemur di bawah sinar matahari dengan suhu 25 derajat Celsius ke atas bisa mencegah penyebaran virus Corona.

WHO pun menyatakan dengan tegas hal itu sebagai mitos belaka. Sebab nyatanya negara-negara dengan iklim panas, seperti yang berada di sekitar garis khatulistiwa, tetap mengalami kenaikan jumlah kasus positif COVID-19.


Penularan virus Corona, imbuh WHO, bisa terjadi di semua area, termasuk daerah dengan cuaca panas dan lembab. "Anda dapat terkena COVID-19, tidak peduli seberapa cerah atau panas cuacanya," tegas WHO, seperti dilansir dari Independent pada Rabu (5/8).

Perihal cuaca yang berpengaruh terhadap wabah COVID-19 juga sudah sempat ramai dibahas pada awal-awal pandemi. Hal ini juga yang memicu timbulnya kepercayaan publik, termasuk di Indonesia, agar aktif berjemur saat pagi hari demi mencegah tertular COVID-19.

Kepercayaan bahwa iklim, cuaca, dan suhu memengaruhi penyebaran COVID-19 juga terus diteliti di berbagai instansi terkemuka. Seperti misalnya peneliti di University College London menyebut ada penurunan kasus infeksi virus Corona selama musim panas, sesuai dengan hasil analisis terhadap data historis.

Jurnal hasil penelitian yang dimuat The Lancet juga mengungkapkan hal serupa. Ilmuwan dari London School of Hygiene dan Tropical Medicine menduga cuaca hangat mungkin dapat mengurangi sedikit transmisi virus Corona.

Kendati demikian, kaitan antara iklim dan penyebaran virus Corona ini harus dilakukan dengan hati-hati. "Saat ini para pembuat kebijakan harus fokus pada pengurangan kontak fisik, setiap risiko COVID-19 berdasarkan informasi iklim harus ditafsirkan dengan hati-hati," kata para peneliti dalam jurnal tersebut.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts