Pakar penyakit menular terkemuka sekaligus Presiden International Society of Infectious Diseases, Paul Tambyah menjelaskan jika mutasi Corona bernama D614G tidak berbahaya.
- Nidya Putri
- Rabu, 19 Agustus 2020 - 09:59 WIB
WowKeren - Peneliti di Malaysia menemukan mutasi pada virus corona (COVID-19) yang membuat virus tersebut menjadi sepuluh kali lipat lebih menular. Namun, para pakar menyebutkan jika mutasi virus corona tersebut tampak tak terlalu mematikan.
Dilansir Reuters, Paul Tambyah, pakar penyakit menular terkemuka sekaligus Presiden International Society of Infectious Diseases menjelaskan adanya bukti yang menunjukkan mutasi Corona tidak berbahaya. Mutasi Corona bernama D614G di beberapa bagian dunia bertepatan dengan laporan penurunan tingkat kematian.
Hal inilah yang kemudian diyakini mutasi Corona D614G memang tidak terlalu mematikan dan justru menjadi kabar baik. "Mungkin itu hal yang baik untuk memiliki virus yang lebih menular tetapi tidak terlalu mematikan," kata Tambyah kepada Reuters.
Tambyah mengatakan, sebagian besar virus cenderung menjadi kurang ganas saat bermutasi. "Adalah kepentingan virus untuk menginfeksi lebih banyak orang tetapi tidak membunuh mereka karena virus bergantung pada inang untuk makan dan tempat berlindung," ujarnya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengatakan jika tidak ditemukannya bukti mutasi menyebabkan penyakit COVID-19 menjadi lebih berbahaya. Pada hari Minggu, direktur jenderal kesehatan Malaysia Noor Hisham Abdullah mendesak kewaspadaan publik yang lebih besar, usai pihak berwenang mendeteksi apa yang mereka yakini sebagai mutasi D614G dari dua klaster, baru-baru ini.
Sementara itu, para ilmuwan telah menemukan mutasi Corona 10 kali lebih menular pada awal Februari 2020 lalu. Bahkan mutasi tersebut telah beredar di Eropa dan Amerika lebih dulu sebelum ditemukan di Malaysia, Singapura hingga Filipina.
Munculnya varian galur yang diberi nama D614G ini juga turut menyedot perhatian masyarakat Indonesia karena dipicu kekhawatiran bisa ikut menjangkiti Tanah Air. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pun menegaskan bahwa belum ada bukti ilmiah perihal virus itu juga sudah masuk ke Indonesia.
(wk/nidy)