Studi terbaru menunjukkan bahwa varian baru COVID-19 ini menimbulkan respons imun yang lebih kuat. Menurut para peneliti, temuan ini juga berimplikasi pada pengembangan vaksin dan perawatan COVID-19.
- Bertilia Puteri
- Jumat, 21 Agustus 2020 - 20:53 WIB
WowKeren - Singapura menemukan varian baru virus corona (COVID-19). Menurut hasil studi yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah The Lancet pekan ini, varian baru COVID-19 tersebut menyebabkan pasien mengalami gejala yang lebih ringan.
Selain itu, studi tersebut juga menunjukkan bahwa pasien yang terinfeksi varian baru COVID-19 ini memiliki tingkat kesembuhan yang lebih baik. Para pasien tersebut memiliki kecenderungan rendah untuk mengalami kekurangan kadar oksigen dalam darah, dan kebanyakan dari mereka tidak membutuhkan layanan perawatan intensif.
Studi ini juga menunjukkan bahwa varian baru ini menimbulkan respons imun yang lebih kuat. Adapun studi ini melibatkan peneliti dari berbagai institusi Singapura, termasuk National Center for Infectious Diseases (NCID), Duke-NUS Medical School, serta Agency for Science, Technology and Research.
Menurut para peneliti, temuan ini berimplikasi pada pengembangan vaksin dan perawatan COVID-19. "Studi ini memberikan data meyakinkan pertama yang menunjukkan bahwa perubahan genetik yang diamati (mutasi) pada SARS-CoV-2 telah memengaruhi tingkat keparahan penyakit pada pasien," ungkap Gavin Smith dari Duke-NUS, dilansir The Jakarta Post pada Jumat (21/8).
Temuan varian baru ini juga membawa kegembiraan di komunitas ilmiah. Pasalnya, wilayah tempat varian ini ditemukan dapat menjadi sasaran pengobatan, dan informasi terkait temuan ini juga bisa mendukung pengembangan vaksin.
Varian baru COVID-19 yang diduga datang dari Wuhan, Tiongkok, terdeteksi di sebuah klaster penularan yang terjadi pada Januari hingga Maret 2020. Di Singapura sendiri, virus ini ditularkan dari orang ke orang melalui beberapa klaster sebelum akhirnya dicegah.
Sebelumnya, Konsultan Senior di National University of Singapore, Paul Tambyah, menyebut bahwa mutasi yang dialami virus corona bisa menjadi pertanda baik. Pasalnya, tutur Tambyah, bukti menunjukkan bahwa proliferasi mutasi D614G di beberapa bagian dunia sejalan dengan penurunan tingkat kematian, sehingga menunjukkan mutasi tersebut membuat virus menjadi lebih tidak mematikan.
"Mungkin memiliki virus yang lebih menular tetapi tidak terlalu mematikan adalah hal yang baik," ungkap Tambayah dilansir Reuters. Menurutnya, sebagian besar virus cenderung menjadi kurang ganas saat bermutasi. "Virus berkepentingan untuk menginfeksi lebih banyak orang tetapi tidak membunuh mereka karena virus bergantung pada inang untuk makanan dan tempat berlindung," pungkas Tambyah.
(wk/Bert)